Thought Pieces

I love words that touch my heart, jump with merriment, ring with truth

Tag: novel best seller

Uniformity

Pernah dengar kata demassification?

pensil warna, jadi penulisSaya juga baru tahu tadi pagi waktu buka-buka Google untuk cari materi penulisan. Saya nggak bisa menerjemahkan dengan persis kata yang dipopulerkan oleh Alvin Toffler itu,  tapi ternyata pernah ada masa ketika para intelektual prihatin bahwa masyarakat dunia di masa depan akan benar-benar seragam. Industrialisasi berarti produksi massal dalam jumlah yang luar biasa banyaknya. Ini mungkin akan mengarah pada standarisasi dan sinkronisasi atas apa saja di dunia ini, yang ujung-ujungnya berakhir pada keseragaman.

Untungnya, saya kira, hal begitu nggak terjadi di dunia nyata. Closer milik The Chainsmokers boleh jadi menduduki peringkat pertama chart tangga lagu Billboard tahun lalu, tapi banyak juga yang nggak suka dan memilih lainnya. Jutaan jeans merk Levi’s telah diproduksi, tapi tetap saja orang punya gaya sendiri-sendiri ketika mengenakannya.

Dulu banyak yang khawatir bahwa KFC akan memonopoli pasar. Untungnya meski waralaba sang kolonel itu ada di mana-mana, ia tak dengan mudah menggeser kedudukan ratu ayam goreng kita, Ny. Suharti. Sama seperti saat Coca Cola mulai populer di Indonesia – meski memang sempat memukul industri minuman lokal, namun kemudian Sosro muncul, dan lantas diikuti brand lainnya. Dan rupanya kebanyakan dari kita masih bertahan memilih wedhang ronde atau sekoteng.

Ini bukan masalah anti Amerika atau modernisme versus tradisional. Ini semata-mata masalah perut – yang ogah distandarisasi. Meski dulu para pemuda bersumpah satu nusa satu bangsa satu bahasa, tapi tetap aja mereka (dan kita) ogah bersumpah untuk menyebut soto Madura, soto Bandung, soto betawi, soto Kudus, dan lain-lain sebagai soto Indonesia.

Itu kenapa saya suka aja makan di food court yang berceceran mal-mal (sementara mal bercecearan di mana-mana) sebab begitu banyak pilihannya. Sate padang, rica-rica menado, pempek palembang, gudeg Jogja, kimbab Korea, katsu Jepang, spageti Italia, burger Amerika… semuanya berbeda-beda. Tempat semacam ini buat saya mirip penolakan teori ‘demassification’-nya Alvin Toffler tadi.

Jadi, saya kadang suka heran sama orang-orang, yang atas nama pribadi, golongan, partai, agama, kelompok, atau apapun masih bertengkar mengenai keberagaman.

Pseudonyms

Baru-baru ini saya mendapat protes dari beberapa kawan. Mereka tak nyaman dengan nama pena yang saya gunakan di buku terbaru saya. Salah satunya bahkan ada yang ‘ngambek’ nggak mau beli buku itu, sebab tak ada nama (asli) saya di kover depan. Meski sudah saya jelaskan bahwa nama asli saya tertera di halaman profil, dia tetap ogah beli walau suka isinya.

Sialnya lagi, di toko-toko buku Jakarta, buku itu masuk best seller dan (nama asli) saya tetap nggak terkenal 😀

Padahal nama pena atau pseudonyms adalah hal yang umum buat seorang penulis. Banyak penulis besar atau best seller yang tak menggunakan nama aslinya. JK Rowling, misalnya, bernama asli Joanne. Mark Twain dilahirkan dengan nama Samuel  Clemens, dan Multatuli adalah nama samaran dari Edward Douwes Dekker.

Lantas kenapa seorang penulis menggunakan nama pena? Alasannya beragam, ada yang karena ingin menyebrang genre, menjaga privacy dari penggemar, menjaga perasaan penggemar atau beralih penerbit.

Stephen King barangkali bakal ditinggalkan penggemarnya jika ia Continue reading

© 2017 Thought Pieces

Theme by Anders NorenUp ↑

Follow

Get the latest posts delivered to your mailbox: