Thought Pieces

I love words that touch my heart, jump with merriment, ring with truth

Tag: penulis non fiksi

Penulis Cuma Harus Bisa Menulis, Masa Sih?

Mengawali karier sebagai freelance writer sejak delapan tahun yang lalu, dan kemudian memulai bisnis penulisan, mengajari saya banyak hal. Ternyata benar bahwa kemampuan menulis cuma salah satu keahlian yang wajib dikuasai, jika ingin menjadi penulis freelance sukses.

Sama hal dengan jenis pekerjaan freelance lain, penulis freelance juga menjalankan bisnis sendiri. Dengan begitu, pekerjaan menulis bukan satu-satunya, sebab penulis freelance juga harus bisa mengatur banyak hal, mulai dariinvoice dan pembayaran, hingga marketing dan membangun jejaring.

Continue reading

#10. Pasir dalam Genggaman

Relationships of all kinds are like sand held in your hand.

Held loosely, with an open hand, the sand remains where it is.

The minute you close your hand and squeeze tightly to hold on, the sand trickles through your fingers.

~ Kaleel Jamison, penulis.

Cinta

Sebuah hubungan, dalam bentuk apapun, mirip seperti pasir dalam genggaman. Ketika kita melonggarkan genggaman, dengan membuka telapak tangan, pasir tersebut tetap berada di tempatnya.  Namun, di menit pertama kita menutup erat genggaman tersebut, pasir akan segera mencari jalan keluar melalui celah antara jari-jari. Begitu kira-kira terjemahan bebasnya.

Jamison yakin pemikirannya sangat pas berlaku bagi sebuah hubungan. Genggam dengan santai, dengan penuh rasa hormat sambil memberikan kebebasan bagi pasangan, maka hubungan cintamu nggak akan pernah berantakan.

Saya hanya setuju sekitar tujuh puluh dua persen. Sebab buat saya jatuh cinta berarti kerja keras.

Kamu dan pasanganmu harus kerja keras untuk membuat sebuah hubungan berhasil. Nggak peduli seberapa dalam cinta dan chemistry yang kamu rasakan pada seseorang, kamu tetap harus menyediakan waktu dan upaya agar hubungan tersebut berhasil.

Dalam konteks ini, abaikan mitos dan dongeng mengenai cinta sejati. Pangeran yang jatuh cinta dengan seorang putri, atau sebaliknya, lantas hidup bahagia selamanya. Jika kamu termasuk orang yang percaya bahwa hubungan cinta yang langgeng berkembang sesederhana ketika dua orang sangat jatuh cinta, ujung-ujungnya kamu bakal kecewa.

Buat saya, happily ever after itu bener-bener cuma kata pengantar dari awal sebuah kisah baru. Kisah yang nggak pernah diceritakan Cinderella dan Putri Salju tentang bagaimana rumitnya mereka harus menjaga hati sang pangeran agar tak pernah berpaling atau mencari puteri lain untuk dijadikan selir. Hubungan langgeng perlu dijaga dan dipertahankan, dan cinta sejati tidak berarti kamu jauh dari masalah atau tak pernah disakiti pasangan.

Hubungan cinta yang kuat dan sehat bukanlah kerja semalam. Kamu perlu mengendalikan sikap, kebiasaan, ucapan dan energi untuk membangunnya. Dan kamu juga enggak perlu mengubah atau memaksa pasangan agar menjadi orang yang bukan dirinya. Membangun hubungan berarti mengubah sikap dan perilakumu sendiri.

Selain itu, kamu juga perlu mengekspresikan diri secara jujur. Ketika kamu kecewa, marah atau frustrasi pada pasanganmu, ungkapkan dengan baik, jujur dan penuh cinta. Saya seringkali melihat seseorang yang langsung melampiaskan kekecewaan dan rasa marahnya dengan tindakan kasar. Entah berteriak memarahi, mengejek, menyindir, hingga memukul atau mengisolasi pasangannya dari lingkaran pertemanan dan keluarga. Buat saya ini perilaku abusive dan nggak sehat, dan kamu harus keluar secepatnya dari situasi tak menguntungkan ini.

Jika kamu ingin mempertahankan sebuah hubungan, nggak ada cara lain selain menciptakan pola komunikasi yang tepat. Dan sebuah komunikasi bisa tercipta apabila ada rasa saling menghormati di dalamnya. Pasanganmu nggak mungkin bisa membuatmu merasakan apapun jika kamu tak puas dengan hidupmu atau tak nyaman dengan hubunganmu.

Cinta bukan sekedar kendaraan pembawa kebahagiaan yang melengkapi hidup. Cinta adalah mahkluk dinamis, hidup dan kerap berubah. Cinta bertumbuh dan butuh perhatian.

#28harimenulistentangcinta

Pseudonyms

Baru-baru ini saya mendapat protes dari beberapa kawan. Mereka tak nyaman dengan nama pena yang saya gunakan di buku terbaru saya. Salah satunya bahkan ada yang ‘ngambek’ nggak mau beli buku itu, sebab tak ada nama (asli) saya di kover depan. Meski sudah saya jelaskan bahwa nama asli saya tertera di halaman profil, dia tetap ogah beli walau suka isinya.

Sialnya lagi, di toko-toko buku Jakarta, buku itu masuk best seller dan (nama asli) saya tetap nggak terkenal 😀

Padahal nama pena atau pseudonyms adalah hal yang umum buat seorang penulis. Banyak penulis besar atau best seller yang tak menggunakan nama aslinya. JK Rowling, misalnya, bernama asli Joanne. Mark Twain dilahirkan dengan nama Samuel  Clemens, dan Multatuli adalah nama samaran dari Edward Douwes Dekker.

Lantas kenapa seorang penulis menggunakan nama pena? Alasannya beragam, ada yang karena ingin menyebrang genre, menjaga privacy dari penggemar, menjaga perasaan penggemar atau beralih penerbit.

Stephen King barangkali bakal ditinggalkan penggemarnya jika ia Continue reading

Tahun Baru Semangat Baru!

Yeay, akhirnya launching website! Yeay, akhirnya punya tim!

Awal tahun 2017 ini saya semangat banget memulai teamwork untuk membesarkan bisnis. “Sudah waktunya” kata seorang mentor yang beberapa kali mengatakan bahwa sejak lama ia melihat banyak potensi dalam diri saya (tapi saya sibuk minder, jadi nggak mendengarkan dia)

Tertunda sekitar dua tahun. Saya selalu berpikir terlalu sibuk untuk mengurusi sebuah tim dan cenderung multitasking. Padahal bisnis saya sudah berjalan cukup lama, klien saya nggak sedikit dan order kadang harus ditahan sebab terus mengalir. Dan saya dengan sok merasa sangat mampu banget menjalankannya sendirian. Tentu saja, pemikiran ini kemudian ditertawakan mentor-mentor saya.

Tahun lalu sempat bergabung dengan sebuah tim serupa, tapi tak berjalan mulus. Saya mengira jika kerja bareng dengan senior bakal sukses. Ternyata enggak juga. Kolaborasi itu ternyata nggak bisa dengan senior seilmu. Harus dengan beda ilmu dan kapasitas, setidaknya masing-masing memiliki satu keunggulan yang tidak dimiliki partnernya.

Continue reading

© 2017 Thought Pieces

Theme by Anders NorenUp ↑

Follow

Get the latest posts delivered to your mailbox: