Thought Pieces

I love words that touch my heart, jump with merriment, ring with truth

Tag: penulis (page 1 of 2)

Majalah dan Saya

Bulan depan, majalah Hai akan terbit buat terakhir kalinya. Konon sih, sebab belum ada pernyataan resmi dari pihak majalah. Saya hanya baca soal ini kemarin di Twitter dan forum Kaskus.

 

Jika benar, maka ini sudah kesekian kalinya majalah-majalah populer gulung tikar, nggak terbit lagi. Sedih deh dengernya, sebab majalah Hai itu memento banget buat saya. Majalah Gadis juga. Bisa dibilang kedua majalah itu berperan besar di masa remaja saya.

Continue reading

Jemawa

Saya lagi kecewa, dan kepingin ngomongin seseorang.

Ia seorang penulis yang (tadinya) saya sukai. Buku-bukunya banyak dan ia terkenal. Lantas, saya merasa ia telah berubah menjadi jemawa. Tak tahan kritik. Merasa penulis best seller, lantas marah ketika ada orang lain yang memiliki pendapat atas buku-bukunya. Meski tak benar-benar marah secara verbal, gestur-nya menunjukkan “Emang lo siapa? Berani-berani ngritik gue, udah pernah nulis buku lo?”

Ini saya lihat ketika menghadiri bedah buku dan book signing event-nya di Jogja dua tahun lalu. Ia memperlihatkan ekspresi tak senang ketika beberapa mahasiswa dari fakultas sastra mempertanyakan sesuatu dari karyanya. Dan tentunya saya langsung kecewa, sebab (sebelum saya tahu bagaimana reaksinya atas kritik) saya penyuka tulisannya.

Beberapa hari lalu, saya lihat di medsos-nya, penulis tersebut marah-marah atas masukan follower-nya tentang konten bukunya. “Kalau ngasih komen, yang sopan, dong!” begitu reaksinya. Duh, saya langsung ilfil dan berniat tak akan pernah membeli karyanya lagi. Dan kayaknya saya nggak sendirian. Lagipula siapa sih yang nggak males kalau kasih feedback aja dimarahi hanya karena si penulis merasa dia lebih tahu sastra ketimbang pemberi komentar? Padahal buku solo-nya sedikit, sisanya buku keroyokan alias antologi, atau duet dengan penulis lain.

Karena setengah kecewa dan setengah sebal, saya langsung berujar sambil ketok-ketok meja,“Amit-amit deh aku jadi penulis sombong begitu.” Tapi lantas tersadar, jangan-jangan saya sudah seperti dia. Kemudian saya berusaha mengingat semua yang terjadi di tahun-tahun sebelumnya. Benar, saya sudah menulis dua puluh buku, tiga per empatnya saya tulis sendiri. Sisanya saya tulis berdua dengan teman penulis. Eh, ini termasuk jemawa, kan ya? 🙂

Satu hal yang diajarkan suami pada saya, bahwa banyaknya buku saya yang sudah terbit hanya menunjukkan satu hal, yaitu saya bisa menulis sesuatu yang disukai penerbit dan dibeli pembaca. Jika mau terus seperti itu, satu-satunya cara adalah dengan terus belajar . Meng-upgrade diri. Tidak melulu dengan banyak baca buku atau mengikuti pelatihan menulis, tapi juga dengan belajar menerima kritik.

Bagaimana pun juga, pembaca adalah pembeli buku-buku saya. Mereka berhak mengkritik apapun yang mereka beli, dengan harga yang tak murah pula! Wajar jika ada yang nggak puas atau merasa terkecoh dengan tulisan saya, lantas memprotes. Lha wong, duit buat beli buku itu bisa buat beli satu cup Caramel Macchiato ukuran Venti di Starbuck, kok.

Trus, apa saya harus pasrah saja jika ada yang mengritik? Awalnya sih, siapa pun pasti langsung panas jika diprotes, apalagi saya yang mudah kesal dan baper. Cuma, memberi respons negatif juga enggak akan memperbaiki keadaan sih. Ya, ditampung saja dulu sambil bilang thank you, lalu setelah tenang gunakan kritikan itu sebagai panduan buat menulis dengan lebih baik.

Respons negatif cuma bakal membuat namamu sebagai penulis tercoreng. Padahal, kelangsungan karier penulis bergantung dari namanya. Dan mendapatkan nama dalam dunia penulisan (atau profesi apapun) bukan hal yang bisa dicapai semalam dua malam. Perlu kerja keras konsisten. Nah, masa cuma gara-gara kita emosi dan merespons kritik secara negatif, trus kerja keras kita berantakan? Malesin banget kan?

Lantas, bagaimana kalau pembaca mengkritik tanpa sopan santun? Tahu kan bagaimana kebanyakan orang sekarang berbahasa di medsos? Kadang pilihan katanya benar-benar menyakitkan. But well, we can’t control other people anyway. Jadi, kendalikan saja diri sendiri. Kalau komentarnya kejam, ya jangan dijawab dengan kejam. Apa bedanya saya dengan mereka kalau saya ikut-ikutan berkata pedas atas komentar mereka.

Lagipula, bukannya kalau ada kritik artinya karya kita memang benar-benar dibaca ya? Pembaca yang peduli akan selalu berusaha agar penulis kesayangannya tetap berada di jalur, tidak berubah menjadi jemawa.

Uniformity

Pernah dengar kata demassification?

pensil warna, jadi penulisSaya juga baru tahu tadi pagi waktu buka-buka Google untuk cari materi penulisan. Saya nggak bisa menerjemahkan dengan persis kata yang dipopulerkan oleh Alvin Toffler itu,  tapi ternyata pernah ada masa ketika para intelektual prihatin bahwa masyarakat dunia di masa depan akan benar-benar seragam. Industrialisasi berarti produksi massal dalam jumlah yang luar biasa banyaknya. Ini mungkin akan mengarah pada standarisasi dan sinkronisasi atas apa saja di dunia ini, yang ujung-ujungnya berakhir pada keseragaman.

Untungnya, saya kira, hal begitu nggak terjadi di dunia nyata. Closer milik The Chainsmokers boleh jadi menduduki peringkat pertama chart tangga lagu Billboard tahun lalu, tapi banyak juga yang nggak suka dan memilih lainnya. Jutaan jeans merk Levi’s telah diproduksi, tapi tetap saja orang punya gaya sendiri-sendiri ketika mengenakannya.

Dulu banyak yang khawatir bahwa KFC akan memonopoli pasar. Untungnya meski waralaba sang kolonel itu ada di mana-mana, ia tak dengan mudah menggeser kedudukan ratu ayam goreng kita, Ny. Suharti. Sama seperti saat Coca Cola mulai populer di Indonesia – meski memang sempat memukul industri minuman lokal, namun kemudian Sosro muncul, dan lantas diikuti brand lainnya. Dan rupanya kebanyakan dari kita masih bertahan memilih wedhang ronde atau sekoteng.

Ini bukan masalah anti Amerika atau modernisme versus tradisional. Ini semata-mata masalah perut – yang ogah distandarisasi. Meski dulu para pemuda bersumpah satu nusa satu bangsa satu bahasa, tapi tetap aja mereka (dan kita) ogah bersumpah untuk menyebut soto Madura, soto Bandung, soto betawi, soto Kudus, dan lain-lain sebagai soto Indonesia.

Itu kenapa saya suka aja makan di food court yang berceceran mal-mal (sementara mal bercecearan di mana-mana) sebab begitu banyak pilihannya. Sate padang, rica-rica menado, pempek palembang, gudeg Jogja, kimbab Korea, katsu Jepang, spageti Italia, burger Amerika… semuanya berbeda-beda. Tempat semacam ini buat saya mirip penolakan teori ‘demassification’-nya Alvin Toffler tadi.

Jadi, saya kadang suka heran sama orang-orang, yang atas nama pribadi, golongan, partai, agama, kelompok, atau apapun masih bertengkar mengenai keberagaman.

8 Hal yang Penulis Lakukan Ketika Menunggu

Minggu lalu saya submit dua naskah berbeda ke dua penerbit. Mau nggak mau, yang harus saya lakukan selanjutnya adalah menunggu kabar dari mereka.

Kamu juga begitu, kan? Menunggu kabar kapan (atau apakah) naskah bisa terbit adalah bagian dari kehidupan seorang penulis. Dan sebagai penulis, kita tahu, situasi ini membosankan dan kadang membikin diri frustasi.

Nah, bagaimana caranya supaya menunggu bisa berguna? Apa yang harus kita lakukan sembari menunggu naskah diterbitkan?

Jawaban standar adalah “menulis naskah berikutnya” ~ tapi kita tahu hal itu nggak semudah kedengarannya. Saya biasanya perlu waktu minimal satu hingga tiga minggu “istirahat’ sebelum bisa menulis naskah baru. Dan dalam masa itu, biasanya saya: Continue reading

Cuti Medsos dan Seni Beres-Beres

IT’S 2017. SELAMAT TAHUN BARU!

Desember lalu menyenangkan banget. Pertama, saya berhasil mengatur agar tak ada satupun order kerjaan masuk untuk bulan tersebut. Tujuannya agar tak seperti tahun-tahun sebelumnya, saya masih harus berjibaku dengan naskah-naskah yang belum kelar di masa liburan. Akibatnya liburan tak nyaman, dan anak-anak tak menjadi perhatian. Meski minggu pertama Desember saya masih menyelesaikan beberapa hal, bobotnya ringan-ringan saja. Dan tiga minggu berikutnya, saya benar-benar puas menghabiskan liburan bareng keluarga.

Nusa Lembongan dan kebun teh di Karanganyar adalah tempat liburan pilihan kami kali ini. Menghabiskan hampir satu minggu di pulau indah itu, menikmati segala aktivitas pantai dan laut, berjemur di bawah matahari (yang terakhir sok-sok saja sih, biar kayak bule, hehe). Sementara menghabiskan seharian di kebun teh di lereng gunung Lawu bikin fresh jiwa dan raga banget.

Ada yang beda dengan liburan kali ini (selain tanpa gangguan kerjaan tentunya). Continue reading

Plot Outline vs Sinopsis

Apa perbedaan antara plot outline dan sinopsis? Pertanyaan ini banyak masuk ke kontak saya.

Di awal belajar menulis, saya juga kesulitan membedakan istilah-istilah tersebut. Lantas saya belajar bahwa sinopsis adalah ringkasan dari novelmu. Penerbit mungkin akan meminta kamu menulis sinopsis sebagai bagian dari proposal naskah. Jadi, sinopsis umumnya dibuat setelah naskah selesai ditulis.

Sedangkan plot outline adalah sesuatu yang harus dibuat sebelum menulis novel. Plot outline ini kemudian kita gunakan sebagai panduan selama proses penulisan untuk membantu kita mengingat bagaimana cerita tersebut ingin kita ungkapkan. “Plotters” atau penulis yang mengandalkan plot outline akan merencanakan isi novel terlebih dahulu. Merencanakan bagaimana novelmu akan ditulis ngebantu banget dalam mengurangi waktu menulis ulang naskahmu.

Continue reading

Mentor

Menulis itu kan bakat, kan… lantas kenapa juga perlu mentor?

Ada dua hal yang saya nggak setuju dari kalimat itu. Pertama, menulis itu perlu kerja keras. Sama dengan profesi-profesi lain, seorang penulis harus punya disiplin tinggi, keinginan untuk terus belajar dan juga latihan terus menerus. Kalau ada bakat, itu bagus. Kamu bisa lebih cepat dalam menciptakan karya. Kalau tidak, kamu tetap bisa punya karya hebat.

Kedua, seorang penulis sangat perlu (setidaknya) seorang mentor.  Enggak masalah apakah kamu penulis pemula atau penulis yang buku-bukunya best seller terus, kamu bakal mendapatkan banyak keuntungan dengan memiliki mentor.

Continue reading

Ditolak? Jangan Baper Ah…

Dalam dua tahun, delapan buku saya diterbitkan dan bisa dengan mudah dicari di toko buku.

“Wah, Astrid.. kamu hebat banget, ih”

Eh, bentar. Dalam dua tahun itu sebenarnya saya mengirim sekitar dua puluh naskah, dan delapan saja yang berhasil terbit. Lantas ke mana dua belas naskah lainnya? Ya, ditolak. Sekarang masih saya simpan di laptop dengan rencana suatu hari mau saya revisi dan kirim lagi ke penerbit lain.

Memang sedih dan terluka banget ya (tsah..) kalau sampai naskah yang udah kita tulis berbulan-bulan ditolak begitu saja oleh penerbit. Tapi mau bagaimana lagi? Itu hak mereka. Oya, omong-omong, selain penolakan-penolakan dari penerbit, saya juga pernah mengalami diketawain editor karena kesalahan riset naskah, dimarahin klien ghostwriting, ditinggal kabur tanpa dibayar padahal naskah sudah setengah jadi, didepak dari proyek impian tanpa alasan jelas, naskah yang telanjur jual putus ternyata dicetak ulang dan saya nggak dapat bagian. Ya, gitu deh. Kebayang kan bete-nya.

Continue reading

Older posts

© 2017 Thought Pieces

Theme by Anders NorenUp ↑

Follow

Get the latest posts delivered to your mailbox: