Tadi sore, anak laki-laki saya yang duduk di kelas tujuh bertanya mengapa ada terorisme dan siapa yang pertama kali memulainya.

sedih

Pertanyaan yang muncul setelah menonton berita sore mengenai bom di Kampung Melayu Jakarta itu mau tak mau membuat saya berpikir keras. Saya mencoba mengingat-ingat lagi beberapa buku bertema sejarah yang pernah saya baca. Dan, meski senang baca buku, saya lumayan payah dalam hal mengingat apa yang saya baca.

Setahu saya, kata terorisme berasal dari bahasa Perancis, le terreur. Kata ini digunakan pertama kali setelah masa Revolusi Perancis untuk menyebut kekerasan luar biasa yang dilakukan pemerintah pada kelompok yang dianggap menentang.  Pendukung kelompok anti pemerintah tersebut dipenggal, dan jumlahnya pun tak main-main. Lebih dari dua puluh ribu kepala terlepas dari tubuh atas perintah penguasa saat itu.

Tentu saja teror tersebut diciptakan agar tak ada lagi yang berani melawan pemerintah. Menyebarkan ketakutan memang menjadi cara paling efektif dalam melakukan revolusi, dan cara ini kemudian banyak dilakukan di Amerika, Rusia dan Eropa, terutama pada pertengahan tahun 1900an dan kemudian menular ke seluruh dunia.

David Ben-Gurion, perdana menteri pertama Israel pernah memprediksi bahwa terorisme bakal menjadi perang gaya baru di dunia. Fanatisme pada sebuah aliran tertentu perlahan-lahan dapat mengubah diri pengikutnya menjadi pembunuh. Pembunuhan terhadap orang-orang yang tak sepaham bisa saja dilakukan oleh satu orang atau sebuah kelompok.

Sebelum Perang Dunia II, terorisme umumnya dilakukan dengan membunuhi pejabat pemerintah yang dianggap tiran. Namun, menjelang akhir tahun 60an, terorisme mulai menyasar masyarakat sipil tak berdosa. Setahu saya, Front Pembebasan Nasional di Aljazair adalah yang pertama kali mempopulerkan hal ini. Mereka menyebar teror dengan melakukan pembunuhan terhadap warga sipil, pejabat berpengaruh dan pendukung pemerintah Perancis. Ironisnya, Front Pembebasan Nasional ini adalah gerakan yang memerdekakan Aljazair dari penjajahan Perancis.

Saat ini, pembunuhan semacam itu tak lagi diminati oleh para teroris, sebab tak efektif lagi. Cara baru dalam meneror kemudian beralih. Mereka lebih suka menggunakan bom. Alasannya skala korbannya bisa lebih besar , dengan begitu perhatian dunia bisa terfokus pada mereka. Selain itu ketakutan lebih hebat dapat tercipta dengan lebih mudah.

Saya masih ingat film dokumenter BBC tentang pemboman ‘Bloody Friday” di Irlandia pada Juli 1972. Kelompok pemberontak Irish Republican Army (IRA) menebar teror di kota Belfast dengan meledakkan 19 bom secara beruntun dalam 80 menit. Pusat kota kecil itu berubah mencekam setelah ratusan penduduk sipil terkena imbas ledakan. “Kesukesan” teror bom IRA inilah barangkali yang kemudian menginspirasi teroris-teroris lain di dunia untuk melakukan hal serupa, termasuk di Indonesia.

Jika pada peristiwa bom Bali, bom Marriot, bom Kuningan dan lainnya yang terjadi pada awal tahun 2000an dilakukan karena sentimen terhadap Amerika Serikat dan negara-negara aliansinya, teror bom yang terjadi beberapa tahun terakhir lebih mengarah pada gerakan mendirikan negara Islam. Tapi, apapun tujuannya saya tetap tak pernah bisa mengerti jalan pikiran pelaku teror bom.

Saya tak pernah bisa mengerti seberapa indahnya surga yang dijanjikan untuk mereka. Barangkali pemahaman religius saya terlalu rendah, tapi jika surga dipenuhi oleh pelaku teror semacam mereka, kayaknya saya akan meminta Tuhan agar tidak mengirim saya ke sana deh. Buat saya, tak masuk akal rasanya membunuh orang tak berdosa hanya karena sebuah keyakinan. Kata Jihad telah kehilangan makna sebenarnya, bukan lagi melakukan upaya untuk mencapai kebaikan di jalan Tuhan, tapi membunuhi siapapun yang tak sepaham.

Buat saya membunuh ya membunuh. Ideologi barangkali dapat membuat orang menjadi martir, tapi untuk apa membunuhi orang tak berdosa? Tentara yang gugur ketika bertugas juga pahlawan pembela. Bedanya, jika pulang dengan gelar anumerta, mereka mendapat penghormatan.

Dalam sebuah biografi yang ditulis Walter Isaacson, Albert Einstein mengkatan, “Had I known that the Germans would not succeed in producing an atomic bomb, I would have never lifted a finger.” Jika saya tahu Jerman tak akan pernah berhasil membuat bom atom, saya pasti tak akan unjuk jari. Dengan kata lain, Einstein sangat menyesali keputusannya membantu Amerika mengembangkan teori Reaksi Berantai. Teori yang tak pernah disangkanya menjadi dasar pengembangan bom atom yang dijatuhkan di Hiroshma dan Nagasaki.

Sedih memang. Semoga tak ada lagi penggila surga yang meledakan bom demi sebuah keyakinan yang berlawanan dengan nurani kebanyakan orang. Hanya demi sebuah perang yang tak pernah dimenangkan. Terlalu menyeramkan jika setelah bom bunuh diri, bom mobil dan bom panci, lantas ada teroris yang beride untuk  meledakkan bom sebesar kota Jakarta. Amit-amit 🙁

My deepest sympathy for the bombing victims in everywhere around the world in the last three days.

Facebook Comments

2 comments on “Tentang Teror

Leave a Reply