TTM = Teman Tapi Menyebalkan

Seorang teman sering sekali berucap maaf. Bukannya mau ikut-ikutan mpok Minah, tapi dia mengucapkan kata itu dengan refleks dan enteng. Datang telat, maaf. Lupa kembaliin buku (setelah 3 tahun berlalu), maaf. Batalin janji tanpa memberi tahu, maaf…maaf…dan maaf.

Jadi kalau saya kesal dan tidak bisa melupakan, mungkin saya juga hanya harus bilang, maaf…

Setiap orang harus memaafkan orang lain, itu kewajiban moral. Setiap orang yang bersalah harus minta maaf, itu juga kewajiban moral. Tapi kalau ada yang minta maaf, bagaimana kita tahu bahwa hal itu benar-benar tulus? Benar-benar mengerti makna dan konsekuensi permintaan maafnya? Dan tidak mengulangi kesalahannya?

Makanya ada kalimat “forgiven but not forgotten.” Bukannya tidak mau memaafkan, hanya saja sulit untuk ikhlas karena kebanyakan kesalahan-kesalahan yang sudah dilakukan cukup kuat tersimpan dalam sel-sel otak. Seperti sebuah tato “I love you, Brad” yang telanjur ditorehkan di kulit, padahal nggak lama putus karena si Brad selingkuh sama cewek lain yang lebih oke.

Facebook Comments