When You Walked Away

Belum lama ini seseorang yang sangat saya sukai telah pergi. Saya amat mengagumi dan menaruh respek padanya. Dan, meski tak pernah terang-terang mengatakan, saya tahu persis bahwa ia pun punya kekaguman yang sama pada saya. Beberapa kali secara diam-diam ia membanggakan saya. Mirip ketika ayah saya (ia jarang terang-terangan mengekpresikan rasa sayangnya)  “memamerkan” kehebatan anak-anaknya di depan semua orang.

Kekaguman mendekatkan kami, dan kedekatan inilah yang membuat saya merasa begitu kehilangan saat ia pergi. Satu hal yang membuat saya amat terpukul adalah kenyataan bahwa ia pergi tanpa mengucapkan selamat tinggal.

Saya mengira akan baik-baik saja setelah ia tak hadir lagi dalam kehidupan saya. Dan saya memang baik-baik saja selama beberapa waktu. Sampai suatu pagi, saya bangun dan merasa begitu sedih. Mau tak mau, saya harus mengakui satu hal:

Saya telah benar-benar kehilangan dia

Iya. Saya menangis ketika menyadari bahwa kami enggak akan pernah ketemu lagi, selamanya. Saya merindukan rutinitas yang dulu kerap kami lakukan berdua. Saling menyapa, saling menyemangati, saling tukar cerita, saling ingin tahu apa yang masing-masing lakukan seharian. Saya merindukan itu semua, dan sedih ketika menyadari hal-hal kecil seperti itu enggak akan pernah kami lakukan lagi.

Elizabeth Kubler-Ross, MD menulis buku berjudul “On Death and Dying.” Ia menjelaskan lima tahap berduka yang akan dialami seseorang ketika berpisah dengan orang yang dikasihinya. Entah karena meninggal atau karena kandasnya hubungan. Kelima tahap ini mungkin tidak terjadi secara berurutan, bahkan lebih sering terjadi bolak-balik hingga proses berduka selesai.

  • Tahap Pertama adalah Penyangkalan. Kita nggak ingin mengakui apa yang sudah terjadi dan terus berilusi bahwa hubungan dengan orang tersebut masih ada. Kita terus berpikir “Nggak mungkin. Ini nggak mungkin terjadi. Aku pasti cuma mimpi.” Reaksi normal ini merupakan sistem pertahanan tubuh untuk mengurangi keterkejutan atas rasa kehilangan tersebut. Otak kita memblokir dan menyembunyikan fakta agar kita mampu bertahan dari gelombang rasa sakit yang akan terjadi berikutnya. Misalnya, saat putus cinta, kita menyangkal situasi ini dengan memata-matai mantan, kepo-in medsosnya, atau mencari tanda-tanda bahwa ini sebuah lelucon.
  • Tahap Kedua adalah Kemarahan. Sadar bahwa kamu enggak bakal kembali lagi padanya, kamu mulai marah. Tipikal dari tahap ini adalah menulisi berlembar-lembar diary  dengan kata-kata tanya. ‘Kenapa dia ninggalin gue? Selama ini gue selalu baik sama dia, trus apa salah gue sampai dia mutusin gue dengan cara begini?” Dan semacamnya. Tahap ini juga ditandai dengan marah-marah serta bete gak jelas sama orang-orang di sekitarmu. Sama keluarga, teman atau bahkan abang gojek yang cuma telat datang dua menit Rasanya enggak ada orang di dunia ini yang bisa memahami kamu lagi.
  • Tahap Ketiga adalah Bargaining. Tahap ini biasanya terjadi bersamaan atau bolak-balik dengan dua tahap sebelumnya. Kamu mencari peluang untuk kembali. Kamu mungkin menyembah minta ampun dan berjanji padanya untuk menjadi kekasih paling setia, atau mengumpulkan seluruh preman pasar buat mengancamnya atau kirim guna-guna . Respon pada tahap ini juga membuatmu mencoba memiliki kendali akan keadaan dengan berandai-andai. “Sendainya aku lebih banyak menghabiskan waktu dengannya,’ “Seandainya aku tak egois,’ “Seandainya aku bersikap lebih romantis padanya.’ Dan secara diam-diam kamu bahkan mencoba tawar menawar dengan Tuhan. Memohon agar Tuhan mengembalikan keadaan seperti sedia kala dan berjanji akan memperbaiki keadaan jika terkabul.
  • Tahap keempat adalah Depresi. Setelah segala cara bargaining yang kamu lakukan enggak berhasil, tibalah kamu di tahap kesedihan. Kamu mungkin merasa hidup nggak berguna lagi, nggak ada semangat lagi, mulai putus asa dan merasa masa depan begitu suram. Orang-orang yang berada pada tahap ini rentan bunuh diri. Pelukan dan semangat dari orang-orang dekatmu sangat dibutuhkan pada tahap ini.
  • Tahap Kelima adalah Penerimaan. Kamu mulai berusaha berdamai dengan keadaan, memaafkan diri sendiri dan menerima bahwa kamu telah kehilangan dia. Kamu belajar melepaskan kenangan masa lalu dan mulai move on. Berapa lama waktu yang dibutuhkan hingga sampai tahap ini benar-benar tergantung pada seberapa cepat kamu bisa mengatasi keempat tahap sebelumnya. Kedewasaan dan dukungan orang-orang terdekat sangat dibutuhkan untuk membantumu melewatinya lebih cepat.

Kenapa saya malah ngomongin tahap-tahap berduka begini? Sebab penting buat saya mengetahui apa yang sedang terjadi dan bagaimana bereaksi terhadapnya. Saya selalu percaya, sebuah peristiwa akan memberi pengaruh baik atau buruk ke depan tergantung bagaimana kita meresponsnya. Dan saya perlu merespons kehilangan, dan duka saya terhadap orang yang telah meninggalkan saya.

Rasanya saat ini saya masih berada di tahap keempat, merasa tak semangat setelah kepergiannya. Tentu saya sudah melewati tahap 1-3 meski nggak mungkin mengiriminya pesan kangen, memohon sambil meraung-raung atau memaksanya dengan sebilah parang di leher agar ia kembali.

Sebab saya tahu, apapun upaya saya, kami enggak mungkin ketemu lagi. Dia sudah pergi dan kehidupan mungkin akan terasa beda ke depannya. Sayangnya, saya masih belum tahu bagaimana harus move on. Hanya yakin saya akan bisa melalui tahap ini dengan benar.

At  the end, everything will be okay. If it’s not okay, then it isn’t the end.

Facebook Comments

Leave a Reply