Lonceng bergema.

11.11

Aku bersiap-siap.

Hujan menghapus terik matahari siang, seharusnya juga mendinginkan temperatur kota, tapi yang terjadi di ruas jalan raya tidak jelas. Kemacetan parah berlatar suara klakson kendaraan berpadu dengan kerumunan orang-orang di tengah rintik. Sebagian memilih berlalu, sebagian beristighfar sambil menatap ketakutan, sebagian lagi beristighfar sambil mengacungkan ponsel, merekam kejadian supaya nanti bisa dibagikan lewat grup WhatsApp dan media sosial, sukur-sukur bisa viral.

Hanya segelintir yang benar-benar turun membantu.

Bisa dimaklumi sih, sebab tidak semua orang berani menolong korban kecelakaan. Apalagi – kalau benar yang dikatakan penonton dari pinggir jalan – korban kecelakaan itu terjepit, susah dikeluarkan dari mobil. Padahal kepalanya sudah terlepas dan menggelinding ke bawah dashboard. Sisa kaki dan tangannya yang sudah tak lagi berbentuk.

Dari kejauhan, penampakan Honda Brio hitam itu mirip daging gosong yang ditusukkan pada batang bambu. Rupanya, mobil itu menabrak truk bermuatan tiang-tiang beton, yang karena panjangnya, sebagian tiang terjulur satu meter ke belakang truk.

Barangkali pengemudi Honda Brio tu tidak menjaga jarak aman, sehingga ketika truk besar itu berhenti, dia terlambat menginjak rem. Barangkali kecepatannya juga terlalu tinggi hingga menginjak rem pun tak terlalu berguna. Salah satu tiang beton menembus kaca depan, menghantam kepala pengemudi hingga copot, dan baru berhenti setelah menjulur lewat kaca belakang mobil berwarna hitam itu.

Setengah jam berlalu. Polisi sudah datang. Ambulans juga. Sayangnya, petugas-petugas itu tidak tahu bagaimana cara terbaik mengeluarkan mayat tanpa kepala itu. Diskusi terus berjalan, apakah bagian-bagian mobil yang harus dipotong atau korban kecelakaan yang harus diamputasi demi menyelesaikan perkara hari ini.

11.11

Aku diam saja mengamati pasangan yang sedang bertengkar.

“Kalau kamu mencintainya, lantas aku ini siapamu? Mengapa tidak kamu katakan saja sejak awal bahwa kamu tidak lagi ingin bersamaku. Mengapa harus menyakitiku seperti ini?” Lengkingan si perempuan bergantian dengan isak tangisnya.

“Ma, aku tidak pernah ingin menyakitimu. Semua di luar kendaliku, aku tidak bermaksud begitu.”

“Tentu saja, kamu tidak bermaksud begitu, tapi perselingkuhan itu terjadi kan? Dan tidak hanya sekali kan? Kalian sudah berbulan-bulan melakukannya, terus apa maksudmu dengan di luar kendali?”

“Papa minta maaf, Ma … Papa tidak akan melakukannya lagi.”

“Tidak mungkin. Papa pasti akan melakukannya lagi.”

“Mama kok nggak percaya Papa sih? Papa janji tidak akan berselingkuh lagi.”

“Kalau begitu, buktikan! Buktikan sekarang juga!”

“Buktikan gimana, Ma?”

“Telepon perempuan brengsek itu, putuskan hubungan kalian di depanku sekarang juga.”

Lelaki itu terdiam ragu. Dia tidak yakin sanggup memutuskan hubungan dengan Rania, sama seperti ketidakmampuannya kehilangan Deswita, istrinya. Keraguannya membuat sang istri meradang, berteriak-teriak histeris, memaki, lalu menangis sekeras lolongan serigala.

11.11

Aku kembali terdiam mengamati pasangan yang sedang bertelepon.

“Untuk apa kamu menelponku lagi, Dev? Istrimu sudah tahu, dan aku tidak ingin terlibat lagi denganmu,” Suara lembut Rania bergetar menahan perih.

“Sayang, jangan begitu. Aku sangat membutuhkanmu saat ini, please … Aku sangat mencintaimu.”

“Aku juga mencintaimu, … tapi kurasa saat ini kita seharusnya tidak bertemu atau bertelepon dulu. Beri aku waktu, hatiku sakit sekali karena kamu tetap memilihnya.”

“Aku tidak bisa menceraikannya. Kita sudah membahas itu sejak awal.”

“Aku tahu, tapi apa aku nggak boleh berharap lebih, Dev? Kita saling mencintai, bisakah kamu tegas memilihku bukan dia?” Tangis perempuan itu akhirnya pecah.

“Sayang, jangan menangis, dong. Kamu tahu aku sangat mencintaimu, aku tahu aku bukan lelaki tegas, tapi aku … Ran, sebaiknya kita nggak ngomong lewat telepon kayak gini. Kita ketemuan, okay? Kamu di rumah, kan?”

Dengan ragu, Rania mengiyakan. Segera setelah menutup telepon, lelaki itu masuk ke mobil dan melaju menemui kekasih gelapnya. Dia tahu, hanya dalam pelukan perempuan itulah, hatinya bisa tenang. Bukan berarti dalam pelukan istrinya tidak, hanya saja rasanya berbeda.

Empat puluh menit menembus jalan raya, lelaki itu kemudian mengarahkan mobil ke sebuah apartemen, mencari tempat parkir. Belum sempat menemukan yang kosong, pesan WhatsApp masuk. Dari Rania, yang membatalkan pertemuan. Dia harus bergegas ke rumah sakit, sebab ayahnya terkena serangan stroke. Lelaki itu sempat melihat taksi keluar dari gerbang apartemen, kekasih gelapnya duduk di bangku belakang. Dia menekan klakson agar perempuan itu menghentikan taksi, tapi sia-sia. Akhirnya dia memutuskan untuk menyusul saja.

Namun, taksi berbelok dan melaju cepat. Lelaki itu kesulitan mencari tahu ke arah mana dia harus mengemudikan mobil. Diambilnya ponsel untuk menelepon, tapi kekasihnya tidak mengangkat. Dikirimnya pesan, menanyakan rumah sakit yang dituju, tidak ada respons. Ditekannya pedal gas, berharap bisa melihat taksi tadi di depan sana.

Notifikasi pesan berbunyi. Tanpa melambatkan kecepatan, lelaki itu membuka WhatsAppnya. Belum sempat membaca pesan apapun, sudut matanya menangkap bayangan truk besar di depan menghalangi. Diinjaknya pedal rem kuat-kuat, sayang Honda Brio warna hitam itu tidak juga berhenti.

11.11

Aku bersiap-siap menjalankan tugasku hari ini.

Devan Riyundra, usia 38 tahun. Manajer keuangan sebuah startup. Menikah tanpa anak. Memiliki kekasih gelap. Hubungan dengan selingkuhannya sudah ketahuan istrinya, tapi dia tidak sedia melepaskan keduanya. Tidak salah lagi, itu dia orangnya. Ah, senangnya apabila tugasku bisa kuselesaikan segera.

— December 28, 2019

What Do You Think?

Follow

Get the latest posts delivered to your mailbox: