Rindu yang Membuatmu Menoleh Ke Belakang

Ada saat ketika kamu menghabiskan puluhan minggu untuk berfokus pada hal-hal di sekitarmu agar dapat melupakan dia, kamu merasa berhasil, dan lantas… Sebuah lagu terputar Sebuah kalimat terbaca Sebuah kenangan melintas seenaknya. Membuat semua yang upayakan dalam puluhan minggu itu bubrah. Ini adalah saat yang paling enggak banget, sebab mau gak mau kamu akan kembali mengingatnya. Dan hal terparah setelahnya adalah kamu harus menahan keinginan untuk kembali menghubunginya, mengontaknya, mendapatkan secercah harapan darinya. Mengharapkan dia bersedia kembali menyapamu, walau hanya lewat satu kata singkat, “Halo…” Dan harapan biasanya satu paket dengan kekecewaan. Kamu mulai khawatir dia tidak akan membalas, atau lebih pedih lagi, kamu mengetahui bahwa ia megabaikanmu, dan telah melupakanmu sepenuhnya. Ego memaksamu untuk menemukan tanda-tanda bahwa ia masih merawat rindunya untukmu, menemukan dirimu masih tersimpan manis di relung hatinya, tapi… Kekhawatiran untuk tidak menemukan tanda-tanda itu juga sama besarnya, membuatmu sedih, memunculkan rasa sakit yang selama ini coba tak kamu rasakan. Di sinilah kemudian, rindu terus membuatmu mencoba menengok ke belakang, padahal yang bisa kamu lakukan adalah terus berjalan ke depan. 9.01 Read more

Xenophobia dan Inferior Complex

Medsos saya diblokir seorang kawan yang gak menyukai saya lagi. Menurutnya saya sok kebarat-baratan. Sebetulnya saya gak pasti juga bagian mana dari pikiran saya yang ia tuduh begitu, tapi malas bertanya karena sudah sebal duluan. Cuma kemudian saya penasaran, apa sih kebarat-baratan itu? Sebab saya gak berbikini saat liburan di pantai, meski bukan dengan alasan moralitas tetapi lebih soal minder sama bentuk tubuh sendiri. Saat makan kentang goreng, saya selalu mencocolnya ke sambal botol. Kalau saya memang keamrik-amrikan, maka saya  akan menggunakan saus tomat, atau dengan mayonise kalau saya ke-eropa-eropaan. Saya menghargai perpaduan Timur dan Barat, seperti sebuah restoran steik di Jogja yg menyertakan tenderloin satu paket dengan nasi putih dalam menunya. Atau seperti pada acara televisi dimana ada sebuah rumah mewah di Jakarta yang memiliki perapian di ruang keluarganya. Padahal ruang itu jelas-jelas berpendingin. Atau seperti beberapa butik di mall-mall besar yang menjual jaket tebal dan berbulu mirip pakaian musim dingin –- yang menimbulkan pertanyaan di kepala saya; mau dipakai di Indonesia bagian mana sih itu? Dan kayaknya penyiar radio yang siarannya saya dengar setiap beberapa pagi, ia lebih kebarat-baratan daripada saya. Sebab ia senang menyapa pendengarnya dengan kalimat semacam, “Helo, youngsters yang lagi pada tune in di ninety... Read more

Masih Penting, Ya?

Dua kawan membaca brosur seukuran folio sambil cekikian, mirip saat saya cekikikan krn membaca komik Benny & Mice – Lost in Bali. Karena penasaran, saya bertanya. Ternyata mereka menertawakan sebuah testimoni. “Waktu kuliah saya melakukan hal terlalu jauh dgn pacar saya. Kemudian kami putus. Sekarang saya bingung sekali karena tak mau calon suami saya kecewa dengan kondisi saya yang sudah tidak perawan lagi. Bisakah ibu membantu saya agar kembali perawan?” Lantas baris di bawahnya tertulis dgn font yg lebih besar; Tentu bisa. Datang saja ke tempat praktek Ibu XX. Dijamin keperawanan Anda akan kembali dalam tempo 30 hari. Tak tanggung-tanggung, si Ibu XX itu pun sanggup memperbesar payudara – juga dalam waktu 30 hari. Ia juga punya susuk ready-stock yang mampu membikin perempuan yang merasa tak menarik menjadi menggairahkan. Sekarang gantian saya yang cekikikan pada brosur yang katanya dibagikan gratis di lampu merah itu. Barangkali saya aja  yang naif sebab tak mengira bahwa hari gini ternyata urusan keperawanan masih dijadikan tolok ukur moral. Seolah-olah lelaki masih begitu egois karena meminta calon istrinya perawan (sementara perempuan tak bisa melakukan tes perjaka kepada calon suaminya). Lantas saya prejudis karena barangkali justru orang-orang seperti ibu XX inilah yang membikin utuhnya hymen menjadi begitu penting.... Read more

Bule Minded

Pada tahun-tahun awal mengajar BIPA, saya pernah kepingin berpacar bule. Sekarang, setelah sepuluh tahun lewat, tak pernah sekalipun saya kencan dengan orang asing. Persoalannya cuma satu. Tak ada bule yang mau menjadikan saya pacar. ‘Terlalu outspoken’ katanya. ‘Kurang Indonesia’ kata yang lain. ‘Kulit lo nggak eksotis sih!’ ejek seorang kawan. Barangkali label-label itu gak benar, tapi tetap membikin saya terpengaruh. Lantas saya mencoba mengingat-ingat kenapa saya (pernah) berniat pacaran dengan pria asing. Konon, mereka lebih romantis, lebih bisa mengerti perasaan perempuan. Pria asing nggak sungkan menyatakan perasaan dan tak pelit memuji. Lantas ada sederet manner yang tak sering dilakukan lelaki di sini, misalnya membukakan pintu dan konsep ‘ladies first’ (meski di negara-negara barat kedua hal ini ditolak mentah-mentah oleh para feminis dengan alasan kesetaraan gender). Lucu juga, sebab ada kawan pria yang membikin pembelaan bahwa konsep ‘ladies first’ sangat tidak jantan. Di Timur, lelaki harus berada di depan, dan ini bukan persoalan gender sama sekali, melainkan perlindungan. Bagaimana lelaki bisa melindungi kalau ia berada di belakang? Seperti yang bisa tertebak, saya malas berargumen. Tak tahu kebenarannya, namun seorang siswa asing yang pernah saja ajar bercerita bahwa lelaki yang mengawini perempuan Asia sering dilihat sebagai male-chauvinist. Percaya pada inferioritas perempuan. Sebab... Read more

En Route

Saya enggak mudik, sebab memang tak punya kampung halaman. Sejak kecil saya terbiasa nomaden, hidup berpindah-pindah, mengikuti ayah yang berdinas di beberapa pulau berbeda. Sebenarnya saya punya keluarga besar di Bandung dan Jakarta, mereka sering ngumpul di salah satu kota itu setiap tahun. Hanya saja saya lebih sering absen, sebab keluarga inti saya, ibu dan adik-adik, ada di Jogja. Keluarga mertuapun tinggal 60 kilometer saja dari rumah, jadi tak bisa benar-benar disebut mudik. Makanya dari dulu saya menyukai program TV yang rutin melaporkan arus mudik dan arus balik. Saya mencoba merasakan atmosfirnya, mencoba berempati pada mereka yang bela-belain pulang kampung naik motor berempat atau lebih. Sebab saya tak pernah mengalaminya. Terus terang, saya termasuk yang rewel dalam hal bepergian jauh. Kendaraan adalah yang selalu membikin saya menjadi cerewet. Berkali-kali saya ke Jakarta, baik untuk urusan kerja maupun mengunjungi sanak keluarga, dan saya selalu menghadapi dilema. Naik pesawat? Saya punya  persoalan dengan movement sickness. Iya, ini kata keren untuk bilang mabok udara. Memalukan memang. Makanya, jika tak harus buru-buru, saya malas naik pesawat. Nyetir mobil? Capek dan stress. Naik bis malam? Saya susah tidur karena skeptis sama supir bis yang barangkali menegak nipam berulang-ulang selama perjalanan. Maka kereta api pagi menjadi yang paling... Read more

Petasan

Satu hal yang saya gak suka dari bulan puasa adalah suara petasan. Entah di tempat lain, tapi di sekitar rumah saya suara petasan masih menjadi hal yang wajib ditoleransi. Sayangnya saya kurang bisa mentoleransi bunyi -bunyian keras. Telinga saya peka dan saya gampang kaget. Beruntung saya gak lemah jantung, tapi saya suka kasihan sama bayi-bayi yang menangis atau ayam-ayam yang susah bertelur karena gelisah mendengar dentuman mercon-mercon itu. Saya kepingin mengutarakan kekesalan saya kepada anak-anak (bahkan orang dewasa) yang main petasan setelah sholat Tarawih dan menjelang subuh itu. Tapi saya yakin mereka cuma akan bilang; “Ya itu sih masalah lo, kita asyik-asyik aja kok!’. Begitulah, asyik adalah alasan kuat untuk memainkan sejumput bahan peledak. Mungkin bermain petasan memang asyik buat orang lain. Saya tidak, sebab waktu kecil saya tidak pernah main petasan. Saya cuma menyalakan kembang api, dan senang melihat percikannya jatuh ke tanah saat digantung di ranting pohon. Sayangnya kembang api sekarang beda dengan di masa saya kecil, sumbunya lebih pendek dan lebih tipis sehingga percikannya kurang heboh dan menyala hanya sebentar. Kembang api memang musti beli, beda dengan petasan yang bisa dibikin sendiri. Menikmati kembang api juga cuma bisa di malam hari dan jelas gak ada bunyi dar-der-dor. Kembang api... Read more

Beard Talk

Bulan puasa kemarin, ketika sedang menulisi slip setoran di sebuah bank, saya menoleh pada orang di sebelah yang juga sedang melakukan hal sama. Ternyata dia Duta Sheila On7. Mestinya saya histeris atau minimal minta foto dan tanda tangan, tapi saya terlalu tertarik dengan jenggotnya sebab seingat saya ia klimis. Lantas saya bertanya, “Kok mas Duta sekarang berkumis dan jenggotan?” Ia menjawab sambil tersenyum, ”Iya, biar tuaan dikit.” – dan ia pun dengan sopan berlalu meninggalkan saya yang sibuk bingung. Iya, bingung. Sebab di saat orang lain ingin kelihatan lebih muda, dia malah kepingin kelihatan lebih tua. Ini mengingatkan pada teman saya yang memelihara janggut demi terkesan lebih religius. Apakah setelah berjanggut keimanannya menjadi lebih kokoh? Ya itu sih saya gak pernah tahu. Namun persoalannya adalah teman itu kayaknya gak bakat berbulu. Buktinya setelah berbulan-bulan, janggutnya gak bertambah lebat secara signifikan, masih setipis benang jahit. Konon ia sudah memakai Wak Doyok, produk penumbuh bulu kompetitor Firdaus Oil dan Kumis Top Cream yang menjanjikan hasil terbaik dalam seminggu. Barangkali produk-produk tersebut memang bagus untuk orang lain. Bicara tentang janggut, seorang kawan lain yang pernah bertugas sebagai pasukan perdamaian PBB di Afghanistan bercerita. Di sana pemerintah Taliban mengaruskan para pria berjanggut. Aturan ini... Read more

Bus Story

Ini kisah beberapa tahun lalu ketika saya berada di dalam sebuah bis wisata bertingkat. Di sebelah saya adalah seorang turis asing, yang dari logat Inggris-nya saya bisa menebak bahwa ia berasal dari Australia. Setelah bisa berjalan beberapa saat, bule Australia itu mencoba memulai percakapan dengan ramah. Awalnya tak ada masalah dengan obrolan kami hingga tiba-tiba ia bertanya, “Kamu orang Melayu?” katanya dalam bahasa Inggris. Pertanyaan itu sedikit membuat saya sebal. Saya yakin turis macam dia, yang pemahaman tentang Asia cuma didapatnya dari Lonely Planet, pasti gak paham bahwa Melayu menjadi label rasial di Singapura dan Malaysia. Barangkali mirip kata Negro, yang buat orang Indonesia gak ada nuansa rasialnya namun bisa memicu aksi anarkis di Amrik sana. Lucunya, saya gak bisa langsung menjawab pertanyaan dia. Soalnya meski serumpun, saya keberatan dianggap orang Melayu. Di sekolah dasar, saya belajar kata ini sebagai nama suku bangsa, meski secara informal kata ini juga dipakai untuk mengolok-olok, setidaknya sewaktu menghabiskan masa kecil di Jakarta, saya terbiasa mendengar ejekan, ”Mental melayu, lo!” Entah dari mana pemahaman itu berawal. Saya pernah membaca buku Hikayat Abdullah. Dalam catatan sejarah  tahun 1823 ada peristiwa ketika Raffles berusaha membujuki Sultan Malayu agar memberi pendidikan formal buat anak-anaknya. Ini karena Raffles melihat gak... Read more

Liburan; Balikpapan

Saya jarang banget menulis tentang liburan. Entahlah buat saya, cerita liburan keluarga kok terlalu pribadi buat di-share. Beberapa foto seru mungkin saya upload di medsos sekadar memenuhi permintaan teman-teman yang ingin tahu, tapi saya gak suka menceritakan terlalu detail. Kisah liburan ke Singapura beberapa tahun lalu pun akhirnya tak jadi saya posting, selain malas saya juga tak ingin pamer. Pertemuan saya dengan seorang kawan lama yang sering ke luar negeri, baik untuk kerja maupun liburan, membuat saya akhirnya menulis postingan ini. Ia menyemangati saya untuk mencoba menulis cerita liburan. “Sederhana saja, bukan pamer.” Begitu ia menjawab keberatan saya. Demi dia, yang selalu baik dan respek pada saya, maka saya akan menambah kategori di blog ini, judulnya Liburan Pertanyaannya, cerita jalan-jalan yang mana? Liburan sekolah anak-anak kali ini lumayan lama, dua minggu. Awalnya sih pilihan saya antara Bali atau Lombok. Tapi masa iya Bali dan Lombok lagi? Walau selalu ada tempat-tempat baru yang menarik tapi saya kepingin suasana yang beda. Menentukan destinasi liburan bareng dua abege gampang-gampang susah, mesti cari tempat yang bikin mereka gak bosen dan juga ada kegiatan seru selama liburan. Buat saya sih sebenarnya pantai udah paling oke untuk liburan bareng anak. Saya pecinta pantai, demikian juga dengan anak-anak.... Read more

Tak (Lagi) Terhubung

Juni. Benar-benar bulan yang sibuk. Saya baru punya waktu luang sekitar dua hari yang lalu setelah sejak awal bulan ini, pekerjaan seperti gak membolehkan saya bersantai. Senang ada momen lebaran, jadi semua kegiatan bisa berhenti untuk beberapa hari. Meski tak benar-benar istirahat karena tetap menyiapkan segala keperluan hari raya, setidaknya saya punya waktu untuk curhat di blog sendiri. Jadi kali ini saya ingin masturbasi, artinya bersenang-senang dengan diri sendiri, menceritakan hal-hal tak penting dalam postingan ini. Sebentar, tak sepenuhnya tak penting sih, sebab akhir April lalu ada insiden kecil yang lumayan mengubah cara pandang saya hingga hari ini. Berawal ketika ponsel pintar saya tiba-tiba rusak, tak bisa dihidupkan. Ia kemudian harus menginap di tempat servis selama sekitar seminggu untuk diperbaiki. Saya tentu bisa langsung membeli yang baru, hanya saja benda itu merupakan sebuah memento bagi saya sehingga sulit untuk diganti begitu saja. Saya mencoba mempertahankannya meski harus berpisah sementara. Jadilah untuk satu minggu saya menggunakan ponsel Nokia 105. Ponsel murmer seharga seratus ribuan keluaran 2013  yang masih membanggakan sistem jadulnya. Tanpa layar sentuh, tanpa kemampuan berkoneksi dengan internet, hanya bisa digunakan untuk menelpon dan berkirim pesan melalui sms. Saya masih butuh ponsel, sebab harus berkomunikasi dengan keluarga dan juga rekan-rekan... Read more