Suatu Hari

Jika ada yang bisa kulakukan untuk mengubah arus kehidupan Agar alirannya bisa mengairi jiwa kita yang semakin mengering Menjadi hilang waktu Maka aku akan menemuimu malam ini Jika ada yang bisa mengembalikan tahun-tahun yang telah berlalu Menghentikan semua kekejaman sebuah perpisahan Maka aku akan terus percaya bahwa cinta akan menemukan jalannya Jika aku bisa memelukmu sekarang Jika kamu bisa mendengarku memanggil kerinduanmu Jika cinta bersedia sedang mengulurkan tangannya Untuk mempertemukamu denganku malam ini Maka harapan bisa membuat janji kita menjadi kenyataan Di luar apa yang bisa kukatakan, dan apa yang bisa dilakukan sang cinta Dengan setiap saat membawaku kepadamu Malam ini Kesepian menemuiku Tapi aku akan menunggu hingga kamu kembali, suatu hari Suatu hari bagiku Dan aku akan selamanya di sini menunggu cintamu Read more

Tak (Lagi) Terhubung

Juni. Benar-benar bulan yang sibuk. Saya baru punya waktu luang sekitar dua hari yang lalu setelah sejak awal bulan ini, pekerjaan seperti gak membolehkan saya bersantai. Senang ada momen lebaran, jadi semua kegiatan bisa berhenti untuk beberapa hari. Meski tak benar-benar istirahat karena tetap menyiapkan segala keperluan hari raya, setidaknya saya punya waktu untuk curhat di blog sendiri. Jadi kali ini saya ingin masturbasi, artinya bersenang-senang dengan diri sendiri, menceritakan hal-hal tak penting dalam postingan ini. Sebentar, tak sepenuhnya tak penting sih, sebab akhir April lalu ada insiden kecil yang lumayan mengubah cara pandang saya hingga hari ini. Berawal ketika ponsel pintar saya tiba-tiba rusak, tak bisa dihidupkan. Ia kemudian harus menginap di tempat servis selama sekitar seminggu untuk diperbaiki. Saya tentu bisa langsung membeli yang baru, hanya saja benda itu merupakan sebuah memento bagi saya sehingga sulit untuk diganti begitu saja. Saya mencoba mempertahankannya meski harus berpisah sementara. Jadilah untuk satu minggu saya menggunakan ponsel Nokia 105. Ponsel murmer seharga seratus ribuan keluaran 2013  yang masih membanggakan sistem jadulnya. Tanpa layar sentuh, tanpa kemampuan berkoneksi dengan internet, hanya bisa digunakan untuk menelpon dan berkirim pesan melalui sms. Saya masih butuh ponsel, sebab harus berkomunikasi dengan keluarga dan juga rekan-rekan... Read more

Pancasila dan Orang-Orang di Medsos

Iya, ngaku. Saya nggak terlalu hafal lagi kalimat-kalimat dalam sila-sila Pancasila. Kalau mendengar orang lain membacakannya sih masih bisa mengikuti, cuma kalau harus mengingatnya lantas mengucapkannya secara lantang barangkali saya bakal gelagapan. Jadi, hei… siapa bilang bahwa tak hafal Pancasila itu hanya masalah generasi milenial? Cuma barangkali saya sedikit beruntung (untuk tidak mengatakan sedang menyombong) karena pernah mengikuti penataran P4 di sekolah dulu. Mendapat sertifikat lagi, meski tak ingat di mana menyimpannya. Ini mungkin yang tak dimiliki generasi setelah saya. Apakah itu artinya saya dan generasi yang menikmati penataran P4 menjadi lebih baik? Tidak selalu sih, sebab yang jago menghafal selalu mendapat nilai baik (dan saya payah dalam hal ini). Saya kira di sinilah alasannya mengapa banyak orang, termasuk saya, tak memahami Pancasila, sebab ia hanya dijadikan wacana hafalan. Dan seperti semua yang dihafal, bukan dipahami, ingatan akan lenyap dengan mudah tergantikan oleh memori-memori baru di otak. Kita tahu cara kerja otak. Ia selalu men-delete file-file yang tak lagi dianggap irrelevant atau berguna . Tujuannya agar ada space baru untuk informasi-informasi yang lebih baru. Otak hanya sedia menyimpan ingatan yang memang kita inginkan, dan sesuatu yang menjadi kebiasaan umumnya tak pernah dihapus. Nah, kebiasaan ber-Pancasila ini – atau dalam istilah... Read more

Utopia

I think John Lennon gave us nothing but utopia… Begitu potongan komentar seorang kawan beberapa waktu lalu pada postingan Beyond Border. Utopia. Benar, mendengar kata ini mungkin kamu akan langsung teringat tulisan Sir Thomas More yang terbit tahun 1516. Buku tersebut mendeskripsikan kehidupan masyarakat sempurna di negeri khayalan. Tapi saya malah teringat pelajaran bahasa Indonesia sewaktu SD. Buat saya, kalimat ”Ini Budi. Itu ibu Budi” bukan sekedar pelajaran mengeja. Lebih dari itu, ia adalah sebuah doktrin tentang kehidupan ideal yang terus ditanamkan ke otak. Budi, Wati, Iwan — kakak adik yang tinggal di kota dengan kedua orang tuanya. Setiap pagi sehabis sarapan, mereka berangkat ke sekolah sementara bapak pergi bekerja dan ibu pergi ke pasar. Di sore hari, bapak santai membaca koran sementara duduk ibu menjahit di samping bapak. Wati dan Budi belajar sementara Iwan bermain bola. Ketika liburan tiba, mereka pergi ke desa mengunjungi kakek nenek serta paman bibinya. Bermain di sawah yang menguning, menggembala ternak, memberi makan unggas kemudian bermain di kali lalu menikmati pemandangan alam. Begitu idealnya gambaran kehidupan Budi dan keluarganya, sehingga saya sempat heran kenapa nenek kakek serta paman bibi saya tidak tinggal di desa. Tak ada keluarga saya yang punya pertanian subur apalagi peternakan makmur.... Read more

Agama

”Astrid, kenapa agama begitu penting di sini?” ”Kenapa Bapak bertanya?” ”Karena, setiap berkenalan dengan orang baru, saya pasti ditanya apakah saya Katolik atau Protestan” ”Dan apa jawaban Bapak?” ”Saya kira saya tidak peduli apa agama saya. Lagipula buat saya agama adalah sesuatu yang tak rasional” Itu adalah sekelumit percakapan saya dengan Greet Andersen beberapa tahun lalu saat saya mendapat kehormatan mengajar bahasa Indonesia kepada duta besar Denmark tersebut. Tentunya obrolan itu dalam bahasa Inggris, sebab ia masih beginner. Awalnya Greet mengira Indonesia adalah negara Islam seperti di kebanyakan negara di jazirah Arabia, artinya hukum Islam dijalankan secara ketat. Makanya saat pertama menginjakan kaki di bandara Jakarta, dia terheran-heran dengan banyaknya perempuan berkaus dan jeans ketat. Ia juga heran melihat mereka kelihatan tak punya masalah berdampingan dengan perempuan yang berhijab, dan yang paling membuatnya heran (karena tak pernah ia lihat sebelumnya) adalah perempuan berhijab dan mengenakan kaus serta jeans ketat ada di mana-mana. Ia bercerita di negaranya, meski tak ada larangan seperti di Perancis, mengenakan simbol-simbol agama dilihat sebagai kaum terbelakang. Pada umumnya, beragama bukan hal yang esensi di sana. Saya bercerita, di sini mengaku tidak beragama justru akan mendatangkan banyak masalah, sebab agama adalah identitas. Seseorang tanpa agama seperti seseorang tanpa... Read more

Tentang Teror

Tadi sore, anak laki-laki saya yang duduk di kelas tujuh bertanya mengapa ada terorisme dan siapa yang pertama kali memulainya. Pertanyaan yang muncul setelah menonton berita sore mengenai bom di Kampung Melayu Jakarta itu mau tak mau membuat saya berpikir keras. Saya mencoba mengingat-ingat lagi beberapa buku bertema sejarah yang pernah saya baca. Dan, meski senang baca buku, saya lumayan payah dalam hal mengingat apa yang saya baca. Setahu saya, kata terorisme berasal dari bahasa Perancis, le terreur. Kata ini digunakan pertama kali setelah masa Revolusi Perancis untuk menyebut kekerasan luar biasa yang dilakukan pemerintah pada kelompok yang dianggap menentang.  Pendukung kelompok anti pemerintah tersebut dipenggal, dan jumlahnya pun tak main-main. Lebih dari dua puluh ribu kepala terlepas dari tubuh atas perintah penguasa saat itu. Tentu saja teror tersebut diciptakan agar tak ada lagi yang berani melawan pemerintah. Menyebarkan ketakutan memang menjadi cara paling efektif dalam melakukan revolusi, dan cara ini kemudian banyak dilakukan di Amerika, Rusia dan Eropa, terutama pada pertengahan tahun 1900an dan kemudian menular ke seluruh dunia. David Ben-Gurion, perdana menteri pertama Israel pernah memprediksi bahwa terorisme bakal menjadi perang gaya baru di dunia. Fanatisme pada sebuah aliran tertentu perlahan-lahan dapat mengubah diri pengikutnya menjadi pembunuh. Pembunuhan terhadap orang-orang... Read more

Majalah dan Saya

Bulan depan, majalah Hai akan terbit buat terakhir kalinya. Konon sih, sebab belum ada pernyataan resmi dari pihak majalah. Saya hanya baca soal ini kemarin di Twitter dan forum Kaskus.     Jika benar, maka ini sudah kesekian kalinya majalah-majalah populer gulung tikar, nggak terbit lagi. Sedih deh dengernya, sebab majalah Hai itu memento banget buat saya. Majalah Gadis juga. Bisa dibilang kedua majalah itu berperan besar di masa remaja saya. Dari majalah Gadis, saya banyak banget belajar buat jadi perempuan mandiri. Kalau remaja sekarang meluangkan banyak waktu buat menonton beragam tutorial dari Youtube, saya belajar banyak hal dari majalah Gadis. Mulai dari cara beresin kamar, cara memilih outfit dan pakai make up (oke, yang terakhir bohong, soalnya saya termasuk ogah dandan), cara mengelola keuangan, cara bersikap asertif dan mengungkapkan pendapat, banyak deh! Sementara dari majalah Hai, saya belajar banyak tentang karya tulis. Banyak penulis-penulis keren muncul dari majalah ini. Mereka favorit saya – Hilman Hariwijaya dengan Lupus-nya, Gola Gong dengan Balada si Roy, Zara Zettira dengan puluhan cerita kerennya (sekarang saya tak suka dia lagi), Kembang Manggis (yang belakangan saya tahu adalah ibu dari penulis Dee Lestari) dan beberapa lainnya. Belum lagi tulisan-tulisan renyah om Wendo alias Arswendo Atmowiloto... Read more

Taruna

Satu lagi anak muda mati sia-sia. Institusi ini atau itu, tak pernah ada kejelasan bagaimana kesalahan semacam itu terjadi dalam sistem ketika calon tarunanya mati atas nama kekerasan oleh senior. Oh, barangkali para kakak kelas itu tak jahat, mereka cuma tidak tahu bahwa gak setiap orang tahan dipukuli sampai mati. Begitulah, sejak remaja ayah saya melarang saya pacaran – apalagi kawin dengan tentara. Lucunya, sewaktu SD saya pernah tertarik masuk ABRI, sebab terinspirasi film 30S/PKI yang – demi mengutuki komunisme – wajib ditonton seluruh pelajar se-Indonesia. Dalam film itu, tokoh Pierre Tendean menjadi begitu hebat di mata saya, sebab ia berani mati untuk melindungi atasannya. Poster pahlawan revolusi itu bahkan saya tempel di dinding kamar tidur, tepat di ujung ranjang, agar saya bisa berlama-lama menatap wajah ganteng sang letnan. Namun kekaguman itu tak terlalu lama. Ia pudar begitu saja ketika anak tetangga saya yang masuk akademi militer membawa pulang teman-teman angkatannya. Mereka senang tertawa keras, merokok, dan bersiul-siul genit ketika saya lewat. Persis preman pasar. Saya kira tidak semua calon taruna begitu, tapi saya keburu kecewa dan lantas memiliki prejudis terhadap tentara. Apalagi di masa Soeharto, citra tentara memang sempat tak simpatik. Mereka menjelma menjadi tukang pukul, pemalak hingga pembantai... Read more

Random Kindness

Suatu siang di Jakarta, saya menumpang mobil kawan. Saat melewati gerbang tol, ia membuat saya terheran-heran, sebab ia membayari juga mobil di belakangnya. Tentu saja saya bertanya, dan jawabannya membikin saya lebih heran lagi. Katanya ia tak tahu siapa empunya mobil di belakang itu, ia hanya suka berbuat baik. Ia senang membayangkan wajah pengemudi tak dikenal itu bahagia karena tak perlu lagi membayar. Dalam hati saya meledek, “Konyol, ah!’. Tentu saja saya begitu karena tak terima. Sebab saya malas mengakui kalau kawan saya itu orang baik. Soalnya, saya pernah mencoba berbuat baik juga, tetapi malah ditertawakan. Misalnya, saat makan di restoran burger, saya berinisiatif membuang bungkus burger dan gelas karton ke tempatnya – mencoba berempati pada pelayan restoran. Tak ada pujian, malah kawan-kawan saya bilang saya kebarat-baratan – “Halah…tiru-tiru bule lo!” kata mereka sambil meninggalkan nampan-nampan penuh sampah di meja. Kali lain, saat naik mobil, kawan yang mengemudi membunyikan klakson keras-keras sambil menyumpah pada sopir angkot yang menyalipnya. Saat itu saya mencoba berempati pada sopir angkot dengan mengatakan pada kawan saya, “Dia kan lagi ngejar setoran, lo kan enggak’. Dan kawan itu memandang saya dengan tatapan aneh. Barangkali seaneh tatapan saya pada teman yg membayari tol untuk mobil di belakangnya... Read more

Ngapem, Nyadran dan Padusan

Menjelang bulan puasa, saya suka mengamati kegiatan penduduk kampung dekat rumah, yang barangkali juga dilakukan kebanyakan kampung di Jogja dan Jawa tengah. Setidaknya ada tiga tradisi sakral turun temurun yang masih wajib dijalankan sampai sekarang; Ngapem, Nyadran dan Padusan. Namanya tradisi, memang gak berhubungan dengan ajaran Islam, cuma tanpanya berpuasa terasa ada yang kurang. Ngapem adalah kegiatan membuat kue apem. Dilakukan dalam kurun waktu sebulan sebelum puasa dimulai, setelah pihak Keraton mengadakan acara Ngapem. Kue apem ini bersama ketan dan kolak – setelah dibacakan doa – akan dikirim ke para tetangga, teman, kenalan, besan, bahkan atasan. Karena penasaran saya pernah bertanya apa esensi dari Ngapem ini, sayangnya tidak ada yang ingat – barangkali karena tradisi ini sudah berusia ratusan tahun. Yang menarik adalah bila saya dikirimi sepaket apem ketan kolak, maka kemudian saya harus membalas mengirimi paket yang sama kepada si pengirim tadi. Bayangkan kalau saya mendapat lima puluh paket dalam sehari! Beruntung saya suka makan. Lalu ada tradisi Nyadran, sebuah ritual ziarah ke makam para moyang, tetua dan kerabat. Diawali dengan bersih-bersih makam, lalu penduduk kampung – dengan membawa besek nasi dan lauk pauk berjalan menuju makam. Seorang Modin (pemimpin agama) akan mengumpulkan besek-besek ini lalu membacakan doa, dan kemudian upacara diakhiri dengan menaburkan bunga ke pusara-pusara leluhur. Nah,... Read more