I think John Lennon gave us nothing but utopia…

 

Begitu potongan komentar seorang kawan beberapa waktu lalu pada postingan Beyond Border.

Utopia. Benar, mendengar kata ini mungkin kamu akan langsung teringat tulisan Sir Thomas More yang terbit tahun 1516. Buku tersebut mendeskripsikan kehidupan masyarakat sempurna di negeri khayalan.

Tapi saya malah teringat pelajaran bahasa Indonesia sewaktu SD. Buat saya, kalimat ”Ini Budi. Itu ibu Budi” bukan sekedar pelajaran mengeja. Lebih dari itu, ia adalah sebuah doktrin tentang kehidupan ideal yang terus ditanamkan ke otak. 

Budi, Wati, Iwan — kakak adik yang tinggal di kota dengan kedua orang tuanya. Setiap pagi sehabis sarapan, mereka berangkat ke sekolah sementara bapak pergi bekerja dan ibu pergi ke pasar.

Di sore hari, bapak santai membaca koran sementara duduk ibu menjahit di samping bapak. Wati dan Budi belajar sementara Iwan bermain bola. Ketika liburan tiba, mereka pergi ke desa mengunjungi kakek nenek serta paman bibinya. Bermain di sawah yang menguning, menggembala ternak, memberi makan unggas kemudian bermain di kali lalu menikmati pemandangan alam.

Begitu idealnya gambaran kehidupan Budi dan keluarganya, sehingga saya sempat heran kenapa nenek kakek serta paman bibi saya tidak tinggal di desa. Tak ada keluarga saya yang punya pertanian subur apalagi peternakan makmur. Mereka semua tinggal di kota. Kalau libur, saya dan mereka malah pergi ke Ancol (waktu itu Dufan belum ada) atau kebun raya, pernah juga ke Monas.

Oh, tentu saja saya masih terlalu kecil untuk mengerti apapun tentang kehidupan yang sempurna. Saya cuma merasa hidup saya kok nggak sekeren hidupnya si Budi itu.

Begitulah. Utopia dijabarkan lewat mata pelajaran, dongeng sebelum tidur, novel fiksi, film, bait lagu, atau apa saja. Namun pertanyaannya, kalau tahu tempat ideal itu nggak pernah ada, lalu kenapa kita menciptakannya dalam khayalan?

Entahlah. Barangkali supaya saat seseorang yang bangun subuh buat mengantri sembako, melepas sawah untuk biaya menjadi TKW, menggadaikan motor untuk biaya rumah sakit, atau menjual diri untuk melunasi uang sekolah ~ mereka tetap punya sesuatu; harapan untuk hidup!

Saat situasi menjadi begitu sulit, mengkhayalkan sebuah negeri yang ideal dengan kehidupan yang sempurna bisa jadi sebagai cara untuk bertahan – agar manusia tetap waras dan gak bunuh diri.

Ironisnya, di tengah korupsi, pertikaian antar kepentingan dan segala macam permasalahan bangsa — bait lagu koes plus tentang bukan lautan hanya kolam susu, dimana hanya dengan menancapkan tongkat kayu, maka tumbuhlah ia menjadi pohon berbuah subur, terasa seperti satir.

————-

Utopia/yoo’towpieeu/n; 1 an imaginary place considered to be perfect or ideal. 2 ideally perfect state; especially in its social and political and moral aspects. [Oxford Learner’s Pocket Dictionary]

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.