Ketika naskah selesai kita tulis, langkah selanjutnya adalah menerbitkan.

Pertanyaannya, mau diterbitkan di mana? Barangkali yang terlintas di kepala pertama kali adalah menerbitkannya di Gramedia group (Gramedia Pustaka Utama, Elex Media, KPG dan Grasindo), atau di Mizan Group  (Penerbit Mizan, Noura Books dan Bentang Pustaka)

Tentu sangat ideal dan membanggakan bila buku kita bisa diterbitkan oleh penerbit-penerbit mayor tersebut. Tapi tahukah kamu, ada beberapa cara menerbitkan buku selain mengandalkan penerbit mayor?

Semua tergantung tujuan kamu menerbitkan buku. Setiap cara menerbitkan buku memiliki kelebihan dan kekurangan sendiri, nah tinggal kita memilah saja mana yang bisa kita manfaatkan sesuai tujuan tersebut.

Jadi, sebaiknya ketahui dengan jelas tujuan kamu menerbitkan buku, apa temanya juga siapa pembacanya. Dengan begitu, lebih mudah bagimu memilih salah satu dari cara menerbitkan buku ini:

cara menerbitkan buku

Penerbit Mayor

Menerbitkan buku di penerbit mayor itu gratis seratus persen sebab pihak penerbit akan menanggung seluruh biaya produksi, distribusi dan promosi. Promosi buku dilakukan gencar oleh penerbit, misalnya melalui media sosial, kuis, give away, dan bedah buku.

Buku akan dicetak dalam jumlah banyak, sekitar 2000 sampai 5000 eksemplar untuk cetakan pertama. Cetak ulang akan dilakukan apabila bukumu laris di pasaran. Sistem penjualan buku juga bervariasi. Beberapa penerbit memiliki toko sendiri sehingga bukumu bisa dijual di sana. Selain penjualan langsung, bukumu juga bisa dijual toko-toko buku online atau memesan langsung ke penerbit.

Sayangnya, proses penerbitan makan waktu lama. Setelah mengirim naskah, kita biasanya harus menunggu sekitar satu sampai tiga bulan untuk mengetahui apakah naskah tersebut diterima atau ditolak. Jika diterima, kita masih harus menunggu penerbit mengedit naskah tersebut. Beberapa penerbit mayor meminta naskah naskah dikirim dalam bentuk hard copy. Ini berarti kita harus mencetak dan mengirimkannya. Bagi penulis pemula, aturan ini mungkin sedikit merepotkan.

Baca juga; Kemampuan Penting Penulis Kekinian

Penerbit mayor biasanya menetapkan royalti sekitar 10℅ dari harga buku. Jadi, kalau bukumu dijual seharga Rp50.000 per buah, maka kamu akan mendapatkan Rp5000, masih dipotong pajak penghasilan, dan dibayarkan setiap 6 bulan. Bagi penulis baru dan belum terkenal, sistem ini mungkin tidak terlalu menguntungkan.

Self Publishing

Self publishing artinya menerbitkan buku sendiri. Beberapa tahun lalu cara ini sulit dilakukan sebab memang teknologinya belum ada dan biayanya mahal. Saat ini, kamu bahkan bisa mencetak satu buku saja dengan harga murah dan kualitas setara buku-buku terbitan penerbit mayor. Teknologi digital printing yang tersedia di mana-mana bisa kamu manfaatkan untuk menerbitkan bukumu sendiri.

Dalam cara menerbitkan buku secara self publsihing, kita bertindak sebagai penulis, editor, layouter, produser dan juga distributor. Kita mengurusi semua sendiri, mulai dari editing, layout isi naskah dan cover, dan lain sebagainya. Jika kesulitan dalam proses ini, kita bisa menyewa jasa editor lepas dan desainer cover. (Lingua aksara bisa menyediakan semua layanan ini, kontak saya via email ya).

Setelah itu kita masih harus mencari percetakan dan distributor untuk membantu penyebaran bukumu di toko-toko buku. Kamu juga bisa bekerja sama dengan toko-toko buku online, biasanya hasil penjualan nanti menggunakan sistem bagi hasil. Kalau kamu ingin mempromosikan bukumu sendiri, menjualnya di komunitasmu atau kepada follower-mu secara langsung, otomatis kamu bisa medapatkan keuntungan seratus persen.

Tentu saja, dengan semua hal diurus sendiri, ada biaya yang harus kamu keluarkan. Biaya self publishing bisa mahal, bisa juga murah. Untuk meminimalkan besarnya biaya, kamu bisa menggunakan sistem POD atau Print on Demand. Artinya, kamu hanya mencetak sesuai jumlah yang kamu butuhkan. Saat ini banyak percetakan buku yang menyediakan layanan ini, dan Lingua Aksara bekerja sama dengan beberapa percetakan sejenis.

 

cara menerbitkan buku

Indie Publishing

Indie publishing sebetulnya tak jauh beda dengan self publishing. Kita membiayai dan memasrahkan proses penerbitan pada penerbit. Biasanya penerbit indie menyediakan layanan editing, desain cover, cetak dan juga distribusi. Layanan ini kadang-kadang dibuat sebagai paket, sehingga penulis bisa memilih mana yang paling sesuai. Penulis menanggung semua biaya penerbitkan, dan hasil penjualan dibagi dengan penerbit indie. Kalau kamu bingung atau tak punya waktu untuk mengurus penerbitan sendiri, maka indie publshing ini cocok banget.

Selama tidak melanggar hak cipta atau mengadung SARA dan pornografi, naskah pasti diterbitkan oleh penerbit indie. Kamu juga bebas menerbitkan buku dari genre apapun, buku fiksi atau non fiksi, komik, pictorial book (buku dengan gambar), kumpulan puisi – apapun. Demikian juga dengan jumlah halaman, tidak ada aturan minimal atau maskimal. Penulis bisa bebas berkreasi dengan karyanya.

Proses penerbitan umumnya cepat, hanya dalam hitungan hari. Naskah juga cukup dikirim via email, dan kamu tidak perlu khawatir dengan keamanannya. Penerbit indie umumnya menjamin keamanan naskahmu, dalam arti mereka tidak akan menyebarkan atau menerbitkan tanpa izinmu. Bagaiman dengan royaltinya? Penerbit indie biasanya memberikan royalti besar kepada penulis, sekitar 70℅ atau lebih.

Kelemahan menggunakan jasa penerbit indie adalah dari segi biaya yang harus kamu tanggung sendiri. Oleh karena itu, rajin-rajin mengunjungi website, dan berkomunikasi dengan pihak penerbit. Mereka biasanya ramah dan senang membantu sehingga kamu bisa bernegosiasi mengenai layanan serta biaya.

Sama halnya dengan self publishing, penerbit indie umumnya juga menerapkan sistem POD, dengan demikian, mereka tidak pernah menyetok buku atau mencetak buku sekaligus banyak. Penerbit indie juga umumnya tidak mempromosikan bukumu secara luas, hanya melalui website atau media sosialnya. Oleh sebab itu, kamu sendiri harus aktif berpromosi. Selain itu, buku-bukumu juga tidak dijual ke Gramedia atau toko buku besar lainnya, sebab penerbit indie hanya memasarkan buku secara online.

Literary Agent

Di luar negeri, literary agent atau agen penulis merupakan cara menerbitkan buku andalan. Agen ini biasanya merupakan badan usaha resmi berbadan hukum. Sebagian besar buku yang terbit dari penerbit dunia, seperti Penguin, Simon & Schuster, atau HarperCollins, berasal dari penulis yang menerbitkan bukunya lewat agen.

Dengan bantuan agen, penulis bisa berkonsentrasi penuh dalam menulis saja, juga tak perlu khawatir naskah ditolak. Karena berbadan hukum, agen penulis juga akan melindungi penulis dari “penerbit-penerbit nakal”. Mereka memiliki orang-orang yang ahli dalam dunia penerbitan, juga mengetahui jenis-jenis naskah apa saja yang sedang tren dan diminati penerbit dan pembaca.

Penulis bisa mengirimkan naskah ke agen, biasanya bukan naskah penuh, melainkan konsepnya dulu  (query letter). Jika tertarik, agen akan meminta penulis mengirimkan 3 atau 4 bab pertama sebagai contoh. Apabila agen merasa karya tersebut menarik dan menguntungkan, maka penulis akan dikontrak untuk menyelesaikan bukunya.

Agen akan mengedit dan merevisi nasakah sebelum menawarkan ke penerbit. Dalam tahap ini penulis bisa belajar banyak sebab agen akan berperan sebagai penasihat sekaligus manajer. Setelah naskah siap, agen akan berperan sebagai perantara yang meyakinkan penerbit bahwa bukumu potensial dan pasti laku. Untuk semua layanan tersebut, penulis harus siap berbagi keuntungan sebesar 15%-20%.

Di Indonesia, ada beberapa agen penulis semacam ini, antara lain 5 Menara Literary Agent dan PenulisPro.Net. Sesuai tren pasar, agen penulis biasanya sangat meminati novel-novel fantasi, science fiction, romance, naskah-naskah motivasi, marketing, self-improvement, self-help, dan how-to. Naskah-naskah  lain semisal kumpulan cerpen atau puisi, atau buku-buku dengan pangsa pasar tertentu (resep masakan, panduan traveling, dan lain sebagainya) biasanya tak menarik perhatian agen penulis.

Digital Pubslishing

Penerbitan digital sudah menjadi salah satu cara menerbitkan buku yang banyak diandalkan. Kecanggihan teknologi, kemudahan yang disediakan produsen hp dan komputer tablet, membuat  semua hal berbau digital menjadi sangat diminati. Beberapa penulis mungkin masih tak nyaman dengan penerbitan jenis ini, demikian juga pembaca yang lebih menyukai buku cetak. Hanya saja, penerbitan digital, mau tak mau, memang perlu dipertimbangkan di era teknologi sekarang ini.

Salah satunya jenis penerbitan digital adalah Ebook atau electronic book. Cara ini merupakan sebuah terobosan besar dalam dunia penerbitan karena bisa mengemat ribuan lembar kertas. Konon, di masa depan, atas nama kemudahan, kepraktisan dan eco friendly, keberadaan buku cetak bisa jadi akan tergeser oleh buku digital.

Baca juga: 4 Keuntungan Menulis di Wattpad

Selain Ebook, cara menerbitkan buku secara digital juga dapat dilakukan melalui aplikasi dan platform buku digital semacam Wattpad, Bookslife, Storial.co, Sweek, Cabaca.id, dan lain sebagainya. Platform semacam ini membebaskan penulis mengunggah karya apapun selama tidak melanggar hak cipta dan SARA serta pornografi. Kamu bisa mengunggah karya non fiksi, novel, cerpen, tips dan panduan, puisi, apa saja.

Beberapa aplikasi menawarkan kerja sama menguntungkan. Bookslife, Storial.co dan Cabaca.id misalnya menawarkan sistem royalti dari buku-buku yang terjual di aplikasi mereka. Umumnya mereka menawarkan penulis untuk menjual bukunya per bab. Beberapa bab awal bisa dibaca gratis oleh pengguna dan sisanya harus membayar. Harga per bab juga bervariasi, namun relatif terjangkau oleh pembaca.

Penulis harus membuat karyanya amat menarik sehingga pembaca bersedia membeli setiap bab. Perusahaan penyedia aplikasi akan membantu dalam proses editing, dan juga pembuatan cover. Promosi gencar juga harus dilakukan oleh penulis lewat media sosial masing-masing agar ada lebih banyak orang yang mengunduh aplikasi tersebut dan membaca karyanya.

Untuk penulis pemula, penerbitan sejenis ini cukup menyenangkan. Royalti yang ditawarkan mungkin tidak besar, tapi peluang untuk naskah kita dibaca dan direspons langsung (mendapat apresiasi dan kritik) menjadi pengalaman berharga. Selain itu, perusahaan penyedia aplikasi memiliki komunitas yang bisa (dan sebaiknya) diikuti. Dalam komunitas ini, penulis pemula bisa belajar dan berbagi banyak hal.

Nah, itu dia beberapa cara menerbitkan buku yang bisa kamu pilih sesuai dengan tujuan dan kebutuhanmu menerbitkan buku. Tidak ada cara yang paling baik, sebab masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Tidak ada salahnya jika kamu mencoba beberapa cara, apalagi kalau kamu penulis produktif yang punya “bank karya”. Sayang kan kalau naskahmu hanya tersimpan di laci atau file komputer. Jadi, yuk selesaikan naskahmu dan beranikan diri untuk menerbitkannya.

Semoga berhasil 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.