Hidup sebagai remaja di di era 90-an rasanya sangat sederhana sekaligus sangat dramatis. Hiburan utama bukan scrolling layar hp sampai jempol kapalan, tetapi menunggu tukang koran lewat atau lari ke agen majalah demi edisi terbaru Gadis, Hai, Anita Cemerlang, Aneka Yess, Mode, atau Kawanku. Begitu majalah di tangan, aroma kertasnya saja sudah bikin saya merasa paling keren se-kabupaten.
Isi cerpen atau cerbung di majalah-majalah tersebut rata-rata menggunakan formula sakral, yakni cinta anak SMA atau mahasiswa. Setting-nya kalau bukan di kantin sekolah, ya di perpustakaan yang tenang. Tokoh cowoknya biasanya digambarkan punya rambut rapi belah tengah atau gaya acak-acakan tapi wangi ala tokoh legendaris, Lupus.
Pertemuan mereka selalu klasik. Anak baru pindahan dari sekolah lain, buku terjatuh, tangan tak sengaja bersentuhan saat mengambil bolpen yang jatuh, lalu tatapan mata tertahan selama tiga detik. Itu sudah cukup untuk membuat saya sebagai pembaca, guling-guling di kasur, cekikiann sambil pukul-pukul bantal.
Puncaknya adalah plot twist yang menguras air mata. Setelah melewati fase PDKT yang malu-malu kucing, tiba-tiba pengarang cerita menjatuhkan keputusan telak. Salah satu dari mereka dinikahkan dengan orang yang lebih kaya, lebih keren, juga anaknya pengusaha teman ortunya. Si tokoh yang ditinggalkan (biasanya karena miskin atau ‘belum jadi apa-apa’) akhirnya hanya bisa meratapi nasib, lalu memilih mencintai dalam diam.
Jika tidak begitu, salah satu dari mereka mengidap penyakit ganas. Biasanya leukimia, kanker, atau penyakit jantung bawaan yang tidak bisa sembuh. Akhir ceritanya? Selalu ada adegan di rumah sakit, janji setia sampai napas terakhir, dan kemudian saya menutup majalah dengan mata sembap, serta tumpukan tisu basah bekas air mata di samping bantal.
Dulu saya berpikir, “Ya ampun, romantis banget ya bisa meninggal dalam dekapan kekasih setia yang mencintai hingga akhir hayat.” Hormon remaja saya saat itu memang agak kurang waras. Saya kadang berkhayal pengin sakit tipus saja (amit-amit!) supaya dijenguk gebetan, dibawain buah jeruk, lalu dia duduk di samping tempat tidur sambil memandang saya penuh iba. Sebuah standar cinta yang penuh melankolia dan pengorbanan suci.
Lalu, zaman pun berganti.
Barangkali, sejak sekitar tahun 2015an, dunia romansa kita dibajak oleh algoritma. Iklan novel online mulai menyerbu timeline media sosial. Kisahnya bukan lagi soal kesetiaan di bangku sekolah, melainkan soal identitas rahasia.
Jika remaja dulu cukup dengan naksir ketua OSIS paling ganteng, sekarang mereka jatuh cinta pada laki-laki yang terlihat sederhana, tahu-tahu ternyata orang super kaya. Judulnya pun tidak lagi puitis seperti “Rembulan di Matamu”, tetapi sangat to the point, semacam “Kukira OB, Ternyata Sultan”, “Cinta Satu Malam Sang Miliarder”, atau yang paling ajaib “CEO-ku, Suamiku”. Entah kenapa, CEO zaman sekarang hobi banget menyamar jadi sopir, petugas janitor, atau kurir. Seolah-olah mereka sudah lelah dengan jabatannya sendiri.
Di era ini, kita tidak lagi diajak jatuh cinta pada cowok ganteng anak basket yang naik motor Astrea Grand. Sekarang, standarnya adalah cowok yang punya helikopter pribadi tapi hobi cosplay jadi orang miskin. Ceritanya hampir selalu dimulai dengan si perempuan yang jatuh cinta dengan laki-laki yang dianggap remeh oleh keluarga besar karena hanya bekerja sebagai kurir atau tukang kebun.
Tapi tunggu dulu! Begitu ada anggota keluarga yang menghina, si cowok tiba-tiba menelepon dan berkata, “Beli gedung ini sekarang juga!”. Ternyata dia adalah pewaris tunggal Grup Mega Giga yang menguasai setengah ekonomi Asia Pasifik. Selama ini dia hanya “ingin menguji cinta sejati”. Ini adalah tingkatan cinta yang baru. Bukan lagi tentang kesetiaan masa SMA, tetapi tentang saldo rekening yang nolnya lebih panjang daripada daftar dosa kita.
Masuk ke era yang lebih baru lagi, tema perselingkuhan merajalela dengan judul yang makin sadis dan spesifik. Judul seperti “Suamiku Selingkuh dengan Baby Sitterku” atau “Suamiku Bercinta dengan Ibuku,” atau “Ipar Adalah Maut” membuat kita jadi gampang curiga pada semua orang di dalam rumah. Cinta tidak lagi digambarkan sebagai sesuatu yang manis, melainkan sebuah kompetisi bertahan hidup di tengah gempuran pelakor yang ternyata adalah orang terdekat sendiri.
Dan yang paling menyebalkan dari novel era sekarang itu adalah sistemnya. Saat kita sudah terbawa emosi melihat si istri sah ditampar mertua jahat, atau saat si CEO baru saja mau membuka identitas aslinya, tiba-tiba muncul jendela pop-up: “Sisa saldo koin Anda tidak cukup. Silakan top-up untuk lanjut membaca.”
Emosi kita langsung pecah! Kita tidak lagi menangis karena tokohnya sakit kanker, kita menangis karena dompet digital kita terkuras hanya untuk tahu apakah si tokoh utama akhirnya balas dendam atau tetap jadi “keset” di pojokan rumah.
Lantas, bagaimana kira-kira evolusi kisah cinta di masa depan saat anak-anak generasi Alpha, si paling digital native, mulai memegang kendali atas narasi romansa mereka? Barangkali judul-judul novel mereka akan semacam, “Jodohku Adalah AI yang Diinstal Mamaku” atau “Ketika Algoritma Tak Sengaja Mempertemukan Kita”
Bagi anak Alpha, jatuh cinta karena “pencahayaan yang pas” saat buka pintu itu sudah kuno. Barangkali mereka akan jatuh cinta karena skor kecocokan bio-data. Sebelum kencan pertama, mereka mungkin saling bertukar akses dashboard kesehatan mental dan riwayat jejak digital.
Walau begitu, sejauh apa pun teknologi membawa mereka, saya yakin pada akhirnya mereka akan merindukan sesuatu yang “analog”. Setelah lelah dengan kencan avatar dan cinta berbasis koding, akan ada satu titik di mana anak Alpha ini akan berhenti sejenak.
Mungkin di tahun 2050 nanti, akan muncul tren novel retro dengan judul yang sangat radikal bagi mereka: “Kencan di Dunia Nyata”.
Isinya adalah dua orang yang nekat bertemu tanpa filter kamera, tanpa memeriksa skor kredit masing-masing, dan duduk berhadapan tanpa memegang gadget. Mereka akan merasakan kembali apa yang kita rasakan di era 90-an; perasaan deg-degan yang asli, keringat dingin yang tidak bisa di-edit, dan sebuah penemuan besar bahwa cinta yang paling jujur adalah cinta yang berani menatap mata aslinya, bukan lewat lensa kamera.
Dan mungkin, saat itulah mereka akan mengerti kenapa kita dulu bisa menangis hanya karena membaca cerpen di majalah kertas yang wanginya tidak akan pernah bisa direplikasi oleh teknologi secanggih apa pun.
Karena pada akhirnya, cinta bukan soal berapa koin yang kita punya atau seberapa canggih sistem penyamaran seorang CEO, melainkan soal keberanian untuk menjadi nyata di depan orang yang kita sayangi.
Di tengah semua evolusi cerita cinta, saya mulai merenung. Mungkin, jika saya diberi umur panjang sampai usia 60 atau 70 tahun, tren cerita cinta juga bakal masuk ke titik yang paling murni, tetapi dalam versi lansia.
Bayangkan novel masa depan dengan judul: “Asam Uratku Membawaku Kepadamu” atau “Cintaku Nyangkut di Antrean BPJS”.
Perkenalannya bukan lagi di pusat perbelanjaan mewah, melainkan di taman komplek saat sedang jalan pagi pakai sepatu ortopedi. Percakapannya tidak lagi berisi gombalan maut, tapi pertukaran informasi medis yang krusial. “
Tensi kamu berapa hari ini?”
“Lagi tinggi, Mas. Kebanyakan makan emping kemarin.”
“Wah sama, aku juga. Eh, tapi aku minum obat herbal A manjur, lho.”
Itulah awal mula benih-benih cinta tumbuh. Bukan karena rupa yang menawan (jujur saja, di usia itu kita semua sudah mirip krupuk yang kelamaan kena angin) melainkan karena rasa senasib sepenanggungan.
Persiapannya saat mau kencan pun bakal beda. Bukan menyiapkan lipstik dan parfum di tas, tapi minyak kayu putih, inhaler, obat jantung, hingga diapers ukuran dewasa untuk jaga-jaga kalau tidak bisa menahan pipis akibat tertawa terlalu keras.
Momen romantisnya pun bergeser secara radikal. Kalau dulu romantis adalah dipakaikan jaket di bahu, sekarang romantis adalah sabar menuntun pasangan ke toilet umum di mal dan menunggu di depan pintunya selama 15 menit tanpa mengeluh. Kenapa? Karena dia paham betul bahwa di usia itu, otot kandung kemih sudah ikut pensiun dini.
Pada akhirnya, kita akan menyadari bahwa cinta yang paling jujur bukan yang ada di majalah Aneka atau di novel CEO yang penuh tipu muslihat. Cinta yang paling jujur adalah cinta yang tenang. Cinta yang hadir saat kita sudah tidak lagi punya apa-apa untuk dipamerkan. Tidak ada jabatan, tidak ada lagi perut rata, tidak ada lagi kulit kencang.
Yang tersisa hanyalah dua orang yang saling mengerti bahwa hidup ini memang keras, lutut sering ngilu kalau udara dingin, serta keinginan untuk buang air kecil jadi perintah alam yang tidak bisa ditunda.
Di situlah letak kedewasaan sejati. Bukan lagi tentang siapa yang paling gagah, tapi siapa yang paling sabar. Sabar memijat kaki yang bengkak, sabar mendengarkan cerita yang diulang-ulang karena faktor pikun, dan sabar menunggu di depan toilet.
Mungkin cinta sejati memang datang terlambat, saat gairah sudah berubah menjadi kasih sayang yang tulus. Karena pada akhirnya, kita hanya butuh satu orang yang tidak akan pergi hanya karena kita sering lupa menaruh kacamata. Juga, kita butuh seseorang yang tetap memegang tangan kita meski tangan itu sudah penuh dengan kerutan dan bau minyak GPU.
Jadi, biarlah para CEO itu sibuk dengan penyamarannya dan para remaja 90-an tetap dengan kenangan cinta tak harus memiliki. Kita hanya perlu satu orang yang mengerti bahwa cinta sejati itu mau menanti, terutama saat kita lagi “kebelet pipis” di tengah-tengah kencan.
Happy Valentine’s Day, everyone <3





