Mau bukumu terbit?

Kalau ingin orang lain benar-benar membaca apa yang kamu tulis, kamu harus menguasai keterampilan swasunting (self-editing) bukumu.

Sekarang ini, siapapun bisa mencetak buku atau karya tulis lain. Karya tersebut tidak harus bagus, dan kamu bisa mencetaknya sejumlah yang kamu inginkan (Print on Demand). Ditambah lagi, ada begitu banyak penerbit indie yang dengan senang hati melayani penerbitan naskahmu.  Jika tidak ingin mencetak pun, kamu tetap bisa menjadikannya sebagai e-book dan menjual karyamu secara digital.

Keputusan ada di tanganmu sepenuhnya. Jadi, kalau kamu mencetak buku-buku yang tidak diedit secara apa adanya, tidak ada yang akan memprotes.

Di sisi lain

Selalu ada kemungkinan karya-karyamu akan ditemukan oleh penerbit besar yang berani mempertaruhkan segala risiko membeli hak cipta dan membayar royaltinya. Meskipun peluangnya kecil, kamu tetap bisa memenangkannya dengan cara memastikan bahwa naskahmu adalah yang terbaik.

Benar, penerbit selalu memiliki editor dan proofreader yang cakap dan andal. Hanya saja, agar sampai di tangan mereka, naskahmu harus jauh lebih baik daripada yang dikirim oleh ribuan penulis lain ke penerbit tersebut.

Demikian pula jika kamu menerbitkan buku sendiri (self-publishing). Satu-satunya cara agar karyamu bisa bersaing dan dikenal adalah dengan melakukan swasunting naskahmu dengan baik. Buku swaterbit tanpa suntingan yang baik hanya akan menjadi olok-olokan.

Jadi, jelas kan kenapa kamu harus belajar menyunting bukumu sendiri?

Cara Menyunting Buku

Kamu bisa menyewa jasa editor, atau membiarkan naskahmu disunting penerbit, hanya saja tetap menjadi tanggung jawabmu untuk meningkatkan kelayakan naskah sejak awal. Jangan pernah mengatakan pada editor, “Saya sudah berusaha semampunya, sekarang tolong edit-in ya.”

Kenapa?

Sebab sedihnya, kalau kamu mencoba jalur penerbitan standar, naskahmu hanya akan bertahan lima menit di meja editor sebelum akhirnya dibuang ke tempat sampah ditolak mentah-mentah.

Rasanya nggak adil, ya?

Tapi memang ada alasannya kok.

Kenapa Penerbit Menolak Naskahmu Setelah Membaca Dua Halaman Saja?

Seorang editor sudah bisa tahu berapa banyak yang harus dia edit dari sebuah naskah sebelum layak terbit – hanya lewat satu atau dua halaman pertama saja. Editor bisa langsung tahu bahwa penulis tidak paham seperti apa naskah yang mampu memikat pembaca. Editor juga akan langsung paham banyak hal seperti:

  • Terlalu banyak karakter yang diperkenalkan di awal
  • Penulis tidak memahami sudut pandang penulisan (PoV)
  • Setting dan premis tidak menarik
  • Pembaca bingung mau dibawa ke mana ceritanya

Ya, editor bisa memastikan hal-hal di atas hanya dari satu atau dua halaman naskahmu.

Kamu bisa saja berkilah, “Tapi, dia (editor) kan belum membaca bagian terbaiknya.” – Nah, ini juga alasan kenapa kamu harus menampilkan bagian terbaik di awal naskah.

Begitulah kenapa swasunting menjadi elemen penting dari naskah yang hendak kamu terbitkan.

Seorang penulis, Francine Prose, bilang:

For any writer, the ability to look at a sentence and see what’s superfluous, what can be altered, revised, expanded, or especially cut, is essential. It’s satisfying to see that sentence shrink, snap into place, and ultimately emerge in a more polished form: clear, economical, sharp.

Untuk penulis manapun, kemampuan untuk melihat kalimat dan melihat apa yang tidak penting, apa yang bisa diubah, direvisi, dikembangkan, atau bahkan dibuang  – menjadi sangat esensial. Benar-benar memuaskan ketika melihat kalimat-kalimat memendek, tepat makna, dan muncul dalam bentuk yang lebih terpoles; jernih, ekonomis, tajam.

Kalau kamu siap belajar bagaimana menyunting bukumu, berikut yang harus kami lakukan.

Tandai Checklist Berikut Jika Kamu Sudah Melakukannya

Tebal Muka

Paling nggak, pura-puralah begitu. Tidak mudah memang, tapi kita sebagai penulis harus bersedia mendengarkan apa yang dikatakan editor – bahkan jika editor itu adalah diri sendiri.

Hindari Bertele-tele

Hindari memulai kisah inti setelah satu atau dua halaman penuh penjelasan mengenai setting atau latar belakang cerita.

Pilih yang Normal-Normal Saja

Kadang kita mencoba memamerkan kekayaan kosa kata atau frasa. Hindari deh. Lebih baik berpikir untuk mengedepankan pembaca dan menjaga isi naskahmu menarik. Your content is the king, and your reader is the queen. And a king always follow her queen, rigth? Jadi, jangan berlebihan ketika menyampaikan pemikiranmu.

Hilangkan Kata-Kata Tak Perlu

Aturan yang mengikuti sarannya sendiri. Harusnya ini menjadi kebiasaan bagi setiap penulis. Misalnya begini:

Dia menganggukan kepalanya tanda setuju. Tiga kata terakhir bisa dicoret. Memangnya yang mengangguk itu bukan kepalanya? Dan bukankah mengangguk umumnya tanda setuju?

Contoh lain:

  • Dia mengangkat bahu karena tidak tahu.
  • Bukunya jatuh ke bawah.
  • Serangan mendadak membuat pasukan mundur ke belakang.

Jangan Remehkan Pembaca

Dalam menjelaskan sesuatu, hindari pengulangan. Misalnya: Mereka masuk melalui pintu yang terbuka dan duduk berhadapan di kursi.

Kalau mereka masuk (ruangan) dan duduk, sudah pasti pintunya terbuka, kan? Juga (kecuali bukan di kursi) kamu tidak perlu menjelaskan di mana mereka duduk. Kalimat tadi bisa kamu sunting menjadi lebih ringkas; Mereka masuk dan duduk berhadapan.

Hindari Menjadi Maniak Kata Sifat

Penulisan yang baik menggunakan kekuatan kata benda dan kata kerja, bukan kata sifat. Pakai kata sifat seperlunya. Kekuatan kata-katamu tidak akan berkurang hanya dengan memilih satu kata sifat yang paling tepat.

Jaga Satu Point of View (PoV) Dalam Setiap Adegan

Kegagalan melakukan hal ini merupakan kesalahan umum penulis pemula. Meski begitu, cobalah melakukannya dengan benar. Memang ada penulis-penulis hebat yang menggunakan lebih dari satu PoV, tapi sekarang ini waktu berubah, begitupun selera pembaca.

Hindari Adegan-Adegan Klise

Bukan hanya kata-kata dan frasa, banyak situasi klise yang sebaiknya dihindari. Misalnya memulai kisah dengan tokoh utama yang terbangun dari tidur karena bunyi alarm, menjelaskan diri sendiri pada saat tokoh utama sedang memandang ke cermin, atau bertemu calon kekasih lewat sebuah insiden kecelakaan.

Show, Don’t Tell

Cantika marah, dia menggebrak-gebrak meja. “Dika, kamu tuh bikin aku gila!” katanya dengan penuh kemarahan.  – Kalau Cantika menggebrak-gebrak meja, tanpa perlu diulang-ulang, pembaca juga sudah tahu kalau dia marah.

“Ayo, kamu pasti bisa, Cantika!” Dika berkata sambil menyemangati. – Kalau Dika bilang Cantika pasti bisa, pembaca juga sudah tahu bahwa dia sedang menyemangati.

Hindari Atribusi

Secara logika, orang itu bicara, bukan menjelaskan perilakunya. Kalimat seperti:

Jono menjatuhkan diri ke sofa. “Gue tepar.”

Lebih baik daripada: Jono benar-benar kehabisan tenaga. Dia menjatuhkan diri ke sofa dan berteriak lelah, “Gue tepar.”

Contoh lain:

“Aku benci kamu,” Juleha berkata sambil memandang Jono dengan tajam.

Jauh lebih enak dariada: “Aku benci kamu.” ujar Juleha dengan nada kesal.

Atau

Dilan menghela napas. “Aku sudah tidak tahan lagi.” katanya. – Buang atribusi ‘katanya’ kalau kamu sudah menjelaskan aksi tokohmu di awal. Pembaca juga sudah tahu kok siapa yang bicara.

Hindari Nama-Nama Tokoh yang Serupa. Bahkan, sebisa mungkin hindari inisial nama yang sama.

Hindari Kata Seru, Titik-titik, and Huruf Besar

“Dia … sudah … MATI!!” – kalimat seperti ini tidak akan membuat  tokohmu terkesan lebih dramatis kok.

****

Swasunting membuat perbedaan besar dalam naskahmu. Sekarang, ambil salah satu tulisan yang sudah kamu buat lalu berlatihlah menyuntingnya. Selamat mencoba.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.