Barangkali, salah satu alasan kenapa saya jadi penulis adalah karena saya sering kesulitan menyampaikan pikiran secara lisan, apalagi di depan banyak orang.

Iya, kemampuan public speaking saya dulu payah – eh, sekarang masih payah juga sih, tapi dulu lebih payah. Setiap kali dihadapkan pada situasi saat saya harus ngomong di depan lebih dari lima orang, secara formal, kuping saya bakal langsung panas dan memerah karena panik. Sedapat mungkin saya menghindari situasi semacam begitu, tapi kalau pun akhirnya harus, biasanya hanya bisa beberapa kalimat dengan banyak “nggg …,” di antaranya.

Belum lagi, kata temen-teman, bahasa tubuh saya jadi berubah. Mata saya nggak fokus ke satu titik, muter-muter kayak orang yang lagi berbohong – dan saya cenderung bicara seperti orang yang sedang menghafal. Akhirnya, ya saya nggak lagi disuruh-suruh untuk ngomong di depan banyak orang.

Ini beda banget dengan kalau saya mengobrol dengan hanya beberapa orang. Saya cenderung santai, mudah disukai, dan seringnya jadi tempat curhat. Beda juga dengan ketika saya menulis, sebab saya bisa berpikir lebih jernih, memilih kata yang tepat, dan nuansa kalimat yang pas.

Hanya saja, belakangan ini kayaknya saya terus didorong untuk berbicara di depan banyak orang.

 

Baca juga: Buku dan Saya

 

Seiring dengan mulai lebih dikenalnya buku-buku yang saya terbitkan, saya mulai diajak bekerja sama untuk memberi materi sharing, menjadi pembicara, atau jadi nara sumber. Misalnya Oktober tahun lalu, saya diminta oleh Kemenlu lewat Museum Konferensi Asia Afrika Bandung untuk menjadi salah satu pembicara dalam sebuah event Literasi Digital. Lantas, tahun 2020 ini, sepanjang Februari-Maret, saya diajak kolab oleh Unesco dan YLKIS untuk menjadi pemateri di program Kita Muda Kreatif dan mengajarkan storytelling via media sosial.

Di antaranya, saya diajak kolaborasi juga oleh beberapa komunitas di Jogja yang punya perhatian pada literasi. Karena hampir semua tujuannya adalah mengedukasi, saya nggak keberatan. Ada rasa tanggung jawab yang akhirnya membikin saya bersedia. Lagipula, sebagai pembaca buku, saya pun ingin berbagi pengetahuan – atau sekadar tukar pikiran dengan penulis favorit saya. Nah, pemikiran ini yang akhirnya membuat saya sedia belajar lebih dalam tentang public speaking.

Nggak, saya nggak bilang saya sudah menguasainya. Sampai sekarang pun saya masih mengalami kesulitan. Kadang saya iri sekaligus penasaran kalau lihat beberapa teman yang dengan mudah bisa menghidupkan suasana dengan menjadi dirinya sendiri saat bicara di depan banyak orang. Orang-orang yang hadir bisa sangat menikmati, bertanya dengan penuh rasa ingin tahu, dan kemudian pulang dengan kesan tersendiri tentang si pembicara.

I really want to learn that.

Sekarang ini, saya hanya mampu menyampaikan materi dengan lancar. Paling tidak, saya nggak lagi mengeluarkan noise “nggg …,” di antara kalimat. Hanya saja, saya kepingin bisa membuat suasana menjadi lebih cair, membuat orang-orang antusias mendengarkan, atau melempar jokes yang membuat orang menjadi lebih santai ketika mendengarkan apa yang saya bicarakan.

Di antara teman-teman Facebook, saya dikenal sebagai tukang ngebanyol lewat status-status saya (dan saya menikmati predikat itu). Dalam meet up informal, sahabat-sahabat merasa senang dengan kehadiran saya karena bisa membuat suasana cair. Entah kenapa, ketika menjadi pembicara (atau apapun namanya), semua itu lenyap. Saya jadi jaim setengah mati.

Ya, saya tahu masih harus belajar banyak, tapi barangkali alasan utamanya adalah karena saya belum bisa merasa nyaman bicara di depan banyak orang. I didn’t really enjoy that, dan belum menemukan cara untuk bisa menikmatinya seperti orang lain.

On the second thought, saya merasa tidak perlu mengubah diri. Bagaimana lagi ya? Saya ini penulis, bukan pembicara. Bukan tukang ngomong, bukan pula orang yang ahli dalam literasi. Pengetahuan yang saya bagikan masih lebih berdasarkan pengalaman pribadi dan sumber bacaan. Saya enggak merasa apa yang saya pikirkan itu penting buat orang lain.

Barangkali saya memang menderita impostor syndrom, yaitu sindroma perasaan tidak berguna (atau semacam itulah definisinya). Orang-orang terdekat saya kadang bingung. Dengan segala pencapaian saya sekarang, saya masih saja merasa bukan siapa-siapa atau bukan apa-apa. Padahal menurut mereka, harusnya saya bangga. Harusnya saya percaya diri dan paham bahwa saya punya peran dan purpose dalam kehidupan.

 

Baca juga: 3 Buku yang Bisa Kamu Baca di Hari Perempuan Sedunia

 

Bukan. Bukannya saya nggak bersyukur dengan apa yang diberikan Tuhan kepada saya hingga saat ini. Hanya saja, perasaan bahwa “saya tuh nggak penting” belum bisa saya kurangi kemunculannya. Barangkali saya hanya perlu terus berlatih untuk melihat diri sendiri dari sudut pandang orang lain, terutama orang-orang terdekat yang sayang dan peduli sama saya.

Eh, ini kok malah jadi curhat ya? 😀

Balik lagi ke soal belajar ngomong. Iya, saya masih harus banyak belajar di bidang ini. Saat ini saya sedang banyak baca artikel dan buku-buku tentang public speaking, hanya saja belum ada yang kena. Ada saran soal buku atau artikel menarik yang bisa saya baca? Kasih tahu ya 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.