Haloooo  … 🙂

Kembali nulis blog lagi setelah lima bulan nggak bikin tulisan apapun di sini.

Memalukan memang, mengaku penulis tapi mengisi konten blog saja malas-malasan. Salahkan kesibukan yang semakin menggila sejak awal tahun 2019. Terdengar klise dan dibuat-buat ya alasannya, tapi yang memang begitu yang terjadi.

Tahun 2019 ini, tiga buku saya terbit berturut-turut. Revolusi Industri 4.0: Mengubah Tantangan Menjadi Peluang di Era Disrupsi 4.0 terbit di bulan Februari, lalu Menggali Pundi-Pundi Lewat Tren Media Sosial yang masuk toko buku sejak bulan April, dan Bijak Mendidik Anak di Era Milenial di pertengahan Juni.

Klik di sini kalau ingin tahu buku-buku lain yang sudah saya terbitkan

Pas menulis postingan ini, saya tuh baru menyadari kalau saya belum pernah berkisah tentang buku-buku saya sendiri. Saya memang mempromosikan buku-buku terbit lewat Instagram @everythingastid (follow ya, hehe …) tapi nggak secara khusus menulisnya di blog. Entah kenapa.

Mungkin, karena setelah menyelesaikan sebuah naskah, saya lantas berlanjut mewujudkan gagasan-gagasan baru menjadi buku berikutnya. Otaknya keburu terisi dengan hal-hal baru, jadi giliran buku yang sudah saya selesaikan itu terbit, saya sudah lupa proses menulisnya. Mungkin juga karena saya sebetulnya bingung bagaimana me-review buku yang saya tulis sendiri tanpa terdengar sombong atau malah membikin spoiler sehingga tidak ada yang mau baca. Nggak tau deh.

Cuma, rasanya saya ingin ke depannya menulis postingan blog tentang buku-buku saya, juga lebih sering me-review buku-buku lain yang berkesan buat saya.

Oh ya, ngomongin buku saya jadi ingat kalau beberapa minggu lalu, dari tanggal 2-12 Agustus, Big Bad Wolf hadir di Jogja – dan ketebak nggak sih? SAYA NGGAK PERGI KE SANA … T.T

Padahal, di postingan tentang Patjar Merah, saya sudah berharap banget bisa ke BBW dan memborong buku-buku bagus berharga murah di sana. Lucunya, saya nggak terlalu menyesal seperti yang saya kira sebelumnya. Biasa saja.

Ini aneh karena biasanya saya suka banget mengunjungi pameran buku. Belakangan saya mulai merasa bahwa alasan kenapa saya nggak menyesal karena tidak sempat mampir ke BBW itu begini:

BOSAN PAMER

Oke, sebelumnya jangan salah paham. Saya nggak bilang orang yang senang membeli banyak buku itu sebagai tukang pamer. Saya cuma bicara tentang diri sendiri yang seringkali beli banyak buku tanpa menyelesaikan membacanya. Nggak jarang, setelah foto buku tersebut saya upload ke media sosial, saya simpan kembali di rak dan hanya akan membacanya ketika ingat atau butuh.

Ngomong-ngomong, kebiasaan semacam ini ada lho istilahnya dalam bahasa Jepang, yaitu Tsundoku. Kalau dalam bahasa Inggrisnya disebut dengan Bibliomania (mungkin, saya kurang yakin – tapi kayaknya iya, hehe)

TSUNDOKU

Pertanyaannya, kenapa ada orang kayak saya yang suka banget menimbun buku? Banyak alasan sih.

Bibliomania, misalnya. Ini semacam obsesi, ekspresi atau bahkan kecanduan untuk menimbun buku. Orang dengan bibliomania tidak bisa melewati bagian buku best seller tanpa membelinya. Mereka merasa perlu memilikinya. Ini mirip dengan orang-orang yang suka membeli baju atau perhiasan tetapi tidak pernah benar-benar mengenakannya. Dalam ilmu psikologi, ini merupakan sebuah konsep-diri yang tidak terkendali atau dikenal dengan obsesif kompulsif.

Alasan lain yang mungkin adalah kebutuhan untuk pamer, kayak saya gitu. Ada kesenangan dalam memiliki banyak buku, entah dibaca atau tidak. Pada akhirnya, mungkin saja saya menjadi idealis. Saya senang membaca buku best seller segera setelah membelinya, tetapi kemudian, tidak ada cukup waktu dalam sehari untuk menyelesaikan membaca. Dalam hati, saya yakin suatu hari bakal bisa membacanya sampai habis. The reality is  …  it never happens.

Tetapi, memangnya nggak menganggu ya ketika ada begitu banyak buku yang belum dibaca tergeletak di rumah?

Buat saya (tadinya) sih tidak.

Buat saya yang tertarik pada pengetahuan dalam buku-buku, koleksi buku yang belum dibaca lebih mengasyikkan daripada koleksi yang telah dibaca. Tindakan membeli buku memberi saya kepuasan akuisisi, sama seperti membeli barang lain, Namun, ada kepuasan khusus khusus untuk membeli buku demi menambah tumpukan literatur yang belum dibaca. Koleksi buku-buku yang belum dibaca itu seolah dunia yang menunggu untuk dijelajahi. Memiliki perpustakaan buku siap pakai yang belum dibaca, memberi saya banyak kesenangan.

GAYA HIDUP MEMILAH DAN MEMILIH

Lantas, suatu hari saya membaca buku The Life-Changing Magic of Tidying Up karya Marie Kondo, dan beberapa waktu kemudian membaca buku Goodbye Things karya Fumio Sasaki. Setelahnya, saya subscribe video-video YouTube dan mem-follow akun-akun Instagram yang membahas banyak tentang gaya hidup minimalis.

Enggak, saya tidak menyebut diri sebagai pengikut minimalis lifestyle. Bahkan rasanya, gaya hidup minimalis (terutama yang ekstrem seperti dalam bukunya Fumio Sasaki) nggak cocok dengan kepribadian saya. Cuma, saya mulai sadar perlunya mengurangi barang-barang dalam rumah, memilah yang tidak digunakan dan hanya memilih yang benar-benar dibutuhkan.

Ini berlaku untuk semua hal. Pakaian, termasuk tas dan sepatu (ini paling banyak pertama), buku (ini paling banyak kedua),  makeup dan skin care, benda-benda dari masa lalu, pajangan, stationery, dan sebagainya. Dengan kesadaran penuh, saya belajar cara memilah dan memilih agar jumlahnya berkurang. Ternyata yang paling berat itu adalah bagian merelakan, hehe … kapan-kapan saya bahas tentang ini ya.

Anyway, setelah beberapa bulan belajar dan mempraktekkan kebiasaan ini, lama-lama hasrat membelanjakan dan menimbun barang benar-benar berkurang. Dari belanja pakaian, sepatu, dan aksesoris baru setiap bulan menjadi sekali dalam empat bulan (belakangan jadi enam bulan). Dari belanja buku setiap kali melewati rak best seller menjadi hanya membeli buku-buku yang saya butuhkan untuk pekerjaan. Bahkan book shopping haul saya pun menjadi, TIDAK AKAN MEMBELI NOVEL BARU KALAU YANG LAMA BELUM SELESAI DIBACA.

Baca juga pengalaman pertama saya menulis novel

Jadi begitulah kenapa saya tidak terlalu menyesal ketika tidak bisa datang ke BBW. Saya sudah berada di tahap malas membeli buku yang tidak saya sukai hanya demi rasa memiliki. Saya tetap beli buku kok, dengan syarat; (1) saya butuh buku itu sebagai daftar pustaka dari naskah yang sedang saya tulis, (2) review-nya bagus, dan (3) men-support kawan-kawan penulis pemula (saya tahu betapa senangnya mereka kalau tahu bukunya dibeli)

Di luar ketiga hal itu, saya bakal mikir-mikir lagi untuk beli – apalagi menimbun buku di rumah. Masa-masa itu sudah lewat. Saya sudah belajar banyak bagaimana meninggalkan hal-hal nggak berguna, termasuk masa lalu 🙂

— August 18, 2019

One thought on “Buku dan Saya

  1. Pingback: Belajar Ngomong – Astrid Savitri

What Do You Think?

Follow

Get the latest posts delivered to your mailbox: