Wah, saya kalah tantangan nih dari murid-murid kelas menulis online saya. Mereka konsisten dengan #28harimenulistentangcinta, sementara saya hanya sampai tulisan ke 21. Alasan sakit dan deadline kerjaan kayaknya agak basi ya, tapi itulah yang terjadi. Ya sudahlah, tulisan kali ini dijadikan penutup saja untuk tantangan ini 🙂

Terinspirasi banget sama miniseri yang lagi tayang di salah satu TV swasta. Temanya persahabatan yang kemudian berubah jadi cinta. Sebenarnya saya nggak tahu gimana persisnya perasaan seseorang yang jatuh cinta dengan sahabatnya sendiri. Untungnya saya pendengar dan pengamat yang baik. Kisah beberapa teman yang jatuh cinta pada sahabatnya sendiri terekam jelas dalam ingatan. Dan karena berada di luar lingkaran, saya bisa melihat situasi sedikit lebih jelas daripada mereka yang terlibat.

Jatuh cinta dengan sahabat baik membawa emosi campuran. Kamu nggak tahu apakah sahabatmu merasakan hal yang sama, sehingga khawatir jika mengakui perasaan justru menghancurkan persahabatan luar biasa yang sudah dibangun bertahun-tahun. Memang sih, ada banyak pasangan bahagia yang memulai hubungan dari teman, lalu sahabat dan akhirnya cinta. Hubungan tersebut menjadi begitu berarti sebab sudah mengenal dengan baik satu sama lain sebelumnya, sehingga masing-masing merasa lebih nyaman ketika memulai hubungan cinta yang lebih serius.

Cuma, saya tetap percaya bahwa persahabatan antara seorang cowok dan seorang cewek itu sejatinya tak ada. Dalam dunia yang serba sempurna, tentu saja ada persahabatan manis antara cowok dan cewek yang sifatnya platonis dan seimbang. Ini hanya terjadi keduanya mampu menjalin komunikasi terbaik dan menghadapi dunia bersama. Sayangnya, dunia yang sempurna itu enggak eksis. Kebanyakan persahabatan macam itu selalu diakhiri dengan jatuh cinta yang ditindak lanjuti dengan menjadi pasangan atau, sebaliknya, saling menghindari.

Sejak kecil saya bermimpi memiliki persahabatan macam ini. Tapi cinta kemudian lebih berkuasa atas mimpi saya. Seringnya saya memilih menghindari situasi ini meski menjalani cinta macam ini juga bukan kesalahan. Buat saya cinta tetap enggak mampu membuat persahabatan beda gender menjadi platonis karena kemudian datanglah sejumlah tuntutan yang sebelumnya enggak pernah terpikirkan.

Tapi hidup memang penuh pilihan.

 

And when life surprises you, remember that not all these surprises are pleasant. So you need to be ready for what life brings you

One Reply to “#21. Sahabat Jadi Cinta… Atau Musuh”

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.