#28harimenulistentangcinta

Katanya, cinta tak harus memiliki. Kata saya, masa sih?

Kayaknya saya kena karma, sebab dulu suka menertawakan orang-orang yang punya prinsip begitu. Buat saya, cinta itu ya harus memiliki. Kalau enggak, ngapain buang-buang waktu dan energi buat mencintainya? Prinsip saya, jatuh cinta itu harus resiprokal. Orang yang kita jatuhi cinta harusnya juga balik mencintai kita.

 

Nyatanya, teori saya hanya berlaku di dunia yang sempurna, dan sayangnya saya enggak tinggal di sana. Alasan inilah yang membuat seseorang cenderung jatuh cinta dengan orang yang nggak available buatnya, baik secara emosional maupun karena faktor lain. Barangkali ia sudah ada yang punya, atau ingin berkarier tanpa diganggu urusan cinta, atau ia ternyata mata-mata negara sebelah yang sedang merahasiakan identitasnya. Bisa juga ia terlalu jaim, terlalu jual mahal atau memang ia tak tertarik sama sekali padamu.

Ada jutaan alasan kenapa seseorang tidak bisa kita miliki, dan apapun itu hasilnya selalu sama. Kita harus meninggalkannya dengan patah hati. Lucunya penolakan tak jarang membuat kita jadi lebih menginginkan orang tersebut.

Jika keinginan itu lantas menjadi obsesi, realitas kadang dibuat buta. Tahu dia tak available untukmu, bukannya mundur, kamu malah nekad. Menggunakan kekuatan supranatural buat menggaetnya, berkonsultasi sama Ki Joko Stupid, mengerahkan preman untuk mengancamnya hingga membangun altar persembahan berisikan foto-fotonya segede poster lalu menaburi bunga dan kemenyan.

Saya sih termasuk yang percaya bahwa patah hati adalah proses yang harus dilewati hingga tahap akhir. Sama seperti luka bakar atau teriris, proses penyembuhan tidak pernah instan.

Perih tak bisa dihindari, namun bisa dikurangi intensitasnya sedari mula. Jika objek ketertarikanmu kebetulan sudah menikah atau kamu mencintai sahabatmu sendiri misalnya, hal terbaik yang bisa dilakukan adalah menghindari dia sejauh mungkin, dan sedini mungkin. Setidaknya hingga kamu dapat berdamai dengan hatimu sendiri.

Berhenti stalking medsosnya, berhenti mencari tahu kabarnya lewat teman-teman, berhenti memikirkannya. Menghilang saja.

Oh, tentu. Nggak ada yang bilang hal ini mudah. Secara alami, makhluk hidup memiliki insting untuk mendapatkan apa yang ia inginkan, tak peduli risikonya. Yang membedakan kita dengan makhluk hidup lain adalah kemampuan mengetahui benar dan salah.  Dan jika sesuatu terasa salah, kita lantas menggunakan nilai dan moral untuk menghindarkan diri dari situasi tersebut, tak peduli seberapa menyakitkan hal itu di awal.

Semakin dalam kamu terlibat, semakin sulit kamu melepaskan diri. Jadi, begitu sinyal ketertarikan pada orang yang tak dapat kamu miliki menyala, menghindar saja. Jangan malah menyalakan api dengan mengungkapkan perasaanmu. Memang sih, ada kemungkinan orang tersebut juga ternyata diam-diam juga mencintaimu, tapi masa iya sih kamu mau jadi orang yang merusak hubungan orang lain? Menyimpan perasaan itu buat dirimu sendiri, menahan untuk tidak mengungkapkannya, akan membuatmu lebih mudah pergi.

Lagipula, bagaimana kalau perasaanmu enggak berbalas? Memangnya kamu bisa memaksanya mencintaimu? Begitu tahu dia tak available untukmu, cari saja orang lain yang lebih berharga dan tidak membuatmu bertepuk pramuka sebelah tangan.

Saya percaya, jika waktu bisa menyembuhkan luka, maka jarak pun demikian. Dengan menjauh atau menjaga jarak dengan orang yang tak dapat kamu miliki, kamu punya peluang lebih besar bertemu orang yang dapat membantumu melupakannya. Orang yang lebih tepat.

Sebab jatuh cinta pada seseorang yang tak dapat kamu miliki sudah pasti sulit dan menyakitkan. Seberapapun kerasnya upayamu menyembuhkan luka, ia akan tetap ada di sana. Menariknya, dengan berjalannya waktu, otak perlahan-lahan akan men-delete ingatan dan rasa yang kita miliki. It will be faded away. Semua akan memudar.

Dan hal yang paling umum terjadi adalah, di momen kamu berhenti mengingat orang yang tak dapat kamu miliki itu, di momen itulah soulmate kamu terbang menghampirimu.

So, Hakuna Matata! Have no worries!

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.